Categories
Artikel

Buka Buku, Buka Mata, Buka Dunia

Oleh: Birgitta Sandhi Hendrowati Nugrohoningtyas (Alumni KU Leuven, Belgia)

Tuhan memang Maha Pengasih. Tahun 2013, saya berhasil mendapatkan beasiswa Erasmus Mundus untuk program European Master of Food Science, Technology and Nutrition. Beasiswa Erasmus Mundus adalah beasiswa yang didanai oleh Komisi Eropa. Sedangkan program yang saya ambil ini adalah konsorsium dari 4 universitas berbeda: KU Leuven di Belgia, Dublin Institute of Technology di Irlandia, Hochschule Anhalt (the Anhalt University of Applied Sciences) di Jerman dan Universidade Catolica Portuguesa di Portugal. Dalam program ini saya harus menyelesaikan modul wajib dan memilih modul pilihan di 4 universitas tersebut. Rasanya masih tidak percaya impian saya untuk belajar sambil jalan-jalan tercapai karena saya harus bersekolah dan tinggal di negara-negara tersebut. Saya juga mendapat kesempatan untuk magang di FAO1 di Italia. Jadi lengkap sudah pengalaman saya menjelajah Eropa dari utara sampai ke selatan.

Enak ya bisa sekolah dan magang di 4 negara berbeda! Komentar itu sering saya dengar. Andai mereka tahu bahwa semua itu ada tantangan dan keuntungannya. Tantangan yang paling bisa dilihat kasat mata adalah mengangkut satu tas besar seberat 27 kilo, satu tas kabin dan satu backpack berisi laptop ke mana pun saya pindah. Jangan dibayangkan di Eropa ada kuli angkut. Semua harus dibawa sendiri. Saya juga harus jalan kaki dan gonta-ganti naik bis dan kereta. Tantangan kedua, dan yang paling membuat pusing, adalah mematuhi peraturan di 4 negara berbeda. Peraturan tentang visa, izin tinggal, dan pajak harus dipahami dan dipatuhi. Tantangan lain yang tidak kalah pentingnya adalah menemukan tempat tinggal, kesulitan komunikasi dengan penduduk lokal, keribetan packing dan unpacking, serta mencari tahu bagaimana cara yang paling efisien dan murah untuk pindah dari satu negara ke negara lain. Tapi saya mendapatkan keuntungan yaitu pengalaman hidup di 4 negara berbeda yang membuka mata saya.

Sebagai mahasiswa nomaden, saat orientasi merupakan saat yang paling menarik untuk saya. Setiap universitas biasanya memberikan gambaran secara umum tentang sejarah negara, sejarah kota dan jika beruntung dilanjutkan dengan wisata keliling kota.  Masa orientasi yang paling berkesan adalah yang diberikan oleh KU Leuven. Teman-teman satu program dikumpulkan di ruang kelas dan diberi penjelasan tentang Belgia. Kami juga diminta untuk menceritakan tentang negara masing-masing. Masyarakat Belgia cukup mengenal Indonesia karena pengetahuan tentang Indonesia diberikan sebagai bagian dari pelajaran sejarah mereka. Belgia pernah menjadi bagian dari Belanda sebelum akhirnya memisahkan diri saat Revolusi Belgia. Kami lalu diajak keliling kota dengan berjalan kaki sambil diberi penjelasan mendetail tentang bangunan yang bersejarah. Siapa sangka kami lalu diajak ke restoran untuk makan malam. Yeeyy

Proses adaptasi dengan cuaca berjalan dengan cukup baik karena saya tiba di Belgia pada akhir bulan Agustus. Saat itu udara masih cukup hangat. Selama saya berpindah-pindah negara, saya belum pernah merasakan cuaca yang terlalu ekstrem. Salah seorang teman memberi tips: kalau belum musim dingin jangan pakai baju tebal-tebal. Usahakan agar badan beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Kalau musim gugur sudah pakai baju tebal-tebal, nanti saat musim dingin mau ditambah pakai baju apa lagi? Tips ini terbukti berguna untuk survive saat musim dingin.

Mengecek ramalan cuaca saat malam hari untuk menentukan pakaian dan peralatan yang harus dibawa merupakan wajib hukumnya. Cuaca dan suhu udara, terutama di Belgia dan Jerman, bisa sangat berbeda dari hari ke hari. Kemarin sejuk, hari ini bisa menjadi dingin. Namun kebiasaan ini tidak berlaku di Irlandia. Tidak perlu repot-repot mengecek ramalan cuaca di Irlandia karena hampir setiap hari hujan disertai angin. Tidak ada gunanya juga membawa payung karena pasti akan tertiup angin. Jadi jas hujan adalah peralatan wajib. Irlandia juga adalah negara yang cuacanya paling aneh menurut saya. Dalam satu hari bisa ada tiga cuaca atau lebih, tanpa pola yang jelas: cerah-berawan-hujan disertai angin-salju-cerah-berawan-salju-hujan disertai angin lagi.

Bergaul dengan orang-orang dari 4 negara sangat memberi warna berbeda pada kehidapan sekolah saya. Orang Belgia cenderung introvert dan menjaga jarak. Orang Irlandia lebih terbuka dan ramah. Walaupun pertama kali saat mereka menyapa ”How’s it going?” saya menjawabnya dengan detail dan jujur. Berasumsi bahwa mereka ingin mengetahui kabar saya yang sebenarnya, karena pertanyaan itu ditanyakan setiap hari. Baru agak lama saya tersadar bahwa sapaan itu cukup dijawab dengan “Fine, thank you!”. Negara Jerman yang terkenal dengan efisiensinya tercemin dari penduduknya. Orang Jerman sangat tepat waktu, menghargai privacy, taat mengikuti peraturan dan cukup kaku menurut pendapat saya. Hanya orang Italia yang karakternya mirip dengan orang Indonesia. Sangat suka bercerita, ramah, perhatian, namun juga mudah marah, tidak tepat waktu, dan tidak tertib.

Namun diantara semua itu, culture shock merupakan hal yang sangat membuka mata saya, bahwa kebiasaan yang dianggap tidak wajar di suatu negara dapat menjadi sebuah kebiasaan yang wajar di suatu negara. Saya akan memberi contoh dengan kebiasaan saat bertemu dengan hugging (peluk) dan check-kissing (cium pipi). Saya dapat menerima kebiasaan peluk. Kebiasaan ini menunjukkan kedekatan dengan seseorang. Pelukan juga secara ilmiah dikatakan dapat menyembuhkan kesepian, memperbaiki mood dan menciptakan kegembiraan karena meningkatan produksi oksitosin dan serotonin. Bahkan saya pernah menemukan kasus ekstrem seseorang membawa papan bertuliskan free hugging di sebuah kota di Jerman. Mungkin pria ini kesepian! Hahaha!

Kebiasaan cium pipi lah yang memberikan tantangan tersendiri untuk saya. Saya harus mengingat jumlah yang tepat untuk negara yang berbeda: Belgia tiga kali, Jerman satu kali, dan Italia dua kali. Kadang saya juga mengalami saat memalukan dengan memberikan pipi yang salah, kanan atau kiri dulu. Penduduk Eropa biasanya menerima jabat tangan, karena sebagai orang Asia kita tidak terbiasa dengan pelukan atau cium pipi. Namun semakin kita dekat secara pribadi dengan mereka, mereka mengharapkan kita untuk menerapkan kebiasaan tersebut.

Masih banyak culture shock yang membuat saya sebagai mahasiswa Indonesia harus beradaptasi. Seperti hambatan bahasa lokal, penggunaan tisu toilet alih-alih air, minum minuman alkohol, partying, makanan halal, table manner (sampai sekarang saya masih kesulitan makan nasi dengan menggunakan pisau dan garpu), cara berpakaian, mekanisme siapa yang membayar saat makan atau minum bersama, pemberian tip kepada pramusaji atau barista, mengembalikan gelas dan piring setelah makan, penggunaan jalan saat bersepeda, bagaimana penduduk Eropa biasanya sangat straightforward dan direct dalam mengekspresikan perasaannya dibandingkan orang Asia, dan masih banyak hal lainnya. Pepatah mengatakan di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Namun kita tetap harus pandai-pandai memilih, kebiasaan apa saja yang sesuai dengan norma negara asal kita.

Menikmati Perpustakaan di Belgia

Tidak semua kebiasaan kebiasaan orang Eropa kurang baik. Justru banyak sekali kebiasaan baik yang dapat dicontoh seperti tepat waktu, teratur, budaya antri dan tertib, pemisahan sampah, etos kerja yang efisien dan lain sebagainya. Namun pada kesempatan kali ini saya ingin mengangkat tentang budaya membaca. Belgia merupakan negara Eropa yang paling lama saya singgahi sehingga saya ingin menjadikan negara ini sebagai tolak ukur.

Pertama kali menginjakkan kaki di perpustakaan umum (dalam bahasa Belanda disebut bibliotheek) di kota tercinta Ghent membuat saya berangan-angan seandainya kota-kota di Indonesia memiliki perpustakaan seperti ini. Sistem di perpustakaan dibuat untuk memudahkan anggota dan meningkatkan minat baca. Ghent memiliki 18 perpustakaan umum. Untuk mendaftar sebagai anggota perpustakaan cukup membawa resident card karena sistem komputerisasi di Belgia sudah terintegrasi dengan baik. Petugas perpustakaan akan memberikan kartu keanggotaan perpustakaan. Dengan memiliki kartu tersebut, anggota dapat mempergunakan fasilitas komputer di perpustakaan, wi-fi gratis, scan gratis, print, fotokopi dan tentu saja meminjam koleksi di perpustakaan.

Perpustakaan Ghent dibagi menjadi area dewasa dan anak-anak. Perpustakaan memiliki berbagai koleksi buku fiksi dan nonfiksi. Walaupun sebagian besar berbahasa Belanda, terdapat koleksi yang cukup banyak untuk buku berbahasa Inggris, Perancis dan bahasa lain. Terdapat pula koleksi majalah, komik, DVD, CD, CD-ROM, audio book dalam CD, koleksi musik dan film.

Berapa banyak koleksi yang dapat dipinjam oleh setiap pemegang kartu? Maksimum 10 buku, 10 komik, 10 CD, 10 majalah dengan maksimum total peminjaman 30 buah. Sedangkan untuk koleksi yang lain maksimum empat DVD, empat sprinter, empat course dengan maksimum total peminjaman 16 buah. Koleksi dapat dicari sebelumnya secara online dari luar perpustakaan. Proses peminjaman dilakukan dengan scan mandiri koleksi yang akan dipinjam. Lama peminjaman empat minggu dan bisa diperpanjang. Jika ingin mengembalikan koleksi dapat datang ke perpustakaan selama jam buka, atau meletakkan koleksi pada semacam kotak surat setelah perpustakaan tutup.

Bagi saya, fasilitas yang sangat membantu adalah platform Mijn Bibliotheek (Perpustakaan Saya). Platform ini dapat digunakan untuk mencari koleksi dan memesannya sebelum peminjaman, membaca semua artikel di koran-koran Flemish, memperpanjang waktu peminjaman tanpa harus datang ke perpustakaan, dan fasilitas Mijn-lijsten yang memuat daftar koleksi favorit atau koleksi yang ingin kita baca. Platform ini juga terhubung dengan e-mail pribadi kita yang memberikan e-mail notifikasi untuk daftar koleksi yang kita pinjam, peringatan jika mendekati akhir waktu peminjaman dan detail denda. Untuk denda, pembayaran dilakukan menggunakan mesin khusus yang hanya dapat menggunakan kartu (tidak dapat menggunakan uang tunai). Saya juga dapat mendownload e-book gratis yang tentunya sangat menggiurkan untuk mahasiswa seperti saya.

Banyak masyarakat umum, pelajar dan mahasiswa Belgia yang menghabiskan waktu di perpustakaan umum. Selain untuk membaca, pelajar dan mahasiswa juga menggunakan perpustakaan untuk belajar dan mengerjakan tugas. Kondisi perpustakaan sangat tenang dan membantu kita untuk fokus berkerja. Orang hanya berbicara seperlunya saja dan dengan volume suara yang rendah. Orang Belgia juga sangat suka membaca di luar perpustakaan. Merupakan pemandangan yang lazim melihat mereka membaca di kereta, kafe, maupun sambil berjemur di musim panas.

Nah setelah mengetahui kemudahan-kemudahan di perpustakaan yang diberikan oleh pemerintah Belgia untuk mendorong minat baca masyarakatnya, izinkan saya untuk sedikit berbagi tentang manfaat yang dirasakan dengan banyak membaca.

Sebagai seorang mahasiswa tentu budaya membaca sangat diperlukan. Pertama kali diperlukan untuk mendapatkan universitas dan beasiswa yang diperlukan. Keunggulan satu universitas dibandingkan dengan universitas lain dan manfaat yang diterima dari beasiswa satu dibandingkan dengan yang lain perlu dipertimbangkan. Telah banyak buku-buku yang diterbitkan oleh para alumni memberikan gambaran bagaimana tips dan strategi untuk mendapatkan universitas dan beasiswa.

Setelah diterima di universitas dan mendapatkan beasiswa tentu saja kita perlu mencari tahu informasi tentang negara tempat universitas itu. Dari mulai untuk mendapatkan visa, ijin tinggal, sejarah, jumlah penduduk, etika, gaya hidup, cuaca, makanan, minuman, dan kebiasaan. Informasi tersebut dapat digunakan sebagai bahan pembicaraan saat hangout dengan teman. Tentu saja mereka juga tertarik untuk mendengar cerita dari Indonesia. Jadi pastikan pengetahuan tentang Indonesia juga sama luasnya.

Kehidupan mahasiswa pasti tidak jauh dari membaca buku-buku teks yang tebal dan jurnal-jurnal. Apalagi saat penentukan topik penelitian dan saat tesis, jika tidak suka membaca rasanya menjadi beban yang berat sekali. Lebih jauh terdapat keuntungan lain dengan menjadi mahasiswa di Eropa. Dengan menjadi mahasiswa di Eropa (baca: negara-negara Schengen), kita dapat travelling ke negara-negara Schengen tanpa visa. Memperluas cakrawala dengan travelling ke tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi adalah salah satu aktivitas yang membuat kita bagian dari komunitas yang terdidik atau beraksara.

Saat magang di FAO1,saya mengobservasi bahwa kebiasaan membaca ini sangat membantu.  Banyak kolega yang harus bekerja dengan membaca banyak sekali buku, jurnal, web page dan dokumen. Semakin banyak membaca, kecepatan dalam membaca dan mengolah informasi yang diperoleh semakin cepat. Selain itu saya juga mengamati bahwa obrolan-obrolan tidak hanya melulu mengenai pekerjaan. Sebagai lembaga yang berisi orang-orang dari seluruh dunia, pembicaraan dan diskusi mengenai politik, ekonomi, hubungan antar negara, berita-berita masa kini, dan sejarah terjadi setiap saat. Jika tidak punya pengetahuan dengan banyak membaca tentang topik yang dibicarakan, dijamin hanya menjadi pendengar setia dan menjadi kuper. Dengan banyak membaca, mereka dapat memberikan komentar dan pendapat terhadap isu-isu sensitif. 

Maukah Indonesia Membaca Buku?

Keberaksaraan atau literacy umumnya dipandang sebagai kemampuan membaca dan menulis. Namun secara bersamaan UNESCO2 menyatakan bahwa konsep keberaksaraan terus berkembang secara komplek dan dinamis sesuai perubahan jaman. Untuk dunia industry, penekanan diberikan pada kecakapan keberaksaraan yang sesuai untuk ekonomi global. Sebagai contoh OECD3 dalam Programme for the International Assessment of Adult Competencies (PIAAC) 2016 mendefinisikan keberaksaraan sebagai “kemampuan untuk mengerti, mengevaluasi, menggunakan dan berinteraksi dengan teks-teks tertulis untuk berpartisipasi dalam masyarakat, mencapai sasaran-sasaran pribadi, dan mengembangkan pengetahuan dan potensi pribadi”. Jadi konteks keberaksaraan juga tidak hanya terfokus pada pribadi melainkan telah meluas menjadi lingkungan dan masyarakat yang beraksara.  

Berbagai usaha untuk memberantas buta aksara dan meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia telah dilakukan seperti melalui program Pemberantasan Buta Aksara, program kejar paket A, B dan C, program Wajib Belajar 9 tahun yang dilanjutkan dengan program Wajib Belajar 12 tahun, program Bantuan Operasional Sekolah (BOS), program Gerakan Nasional Orang Tua Asuh (GNOTA), sertifikasi guru dan dosen, akreditasi sekolah, dan berbagai program beasiswa. Banyaknya program ini membuat pemberantasan buta aksara di Indonesia sukses. Pada tahun 1945, hanya 3% dari populasi Indonesia yang mengenyam pendidikan formal. Sedangkan di tahun 2015, menurut data UNESCO2, jumlah buta aksara usia 15 tahun keatas sebesar 8 juta jiwa (4,56%) dan berhasil mencapai target Dakar World Education Forum dalam program Education for All (EFA) yaitu menjadikan jumlah buta aksara orang dewasa menjadi setengah di tahun 2015.

Jangan lupa walaupun syarat dasar keberaksaraan adalah kemampuan membaca, yang melibatkan keakuratan dan kecepatan membaca, ternyata itu saja tidak cukup untuk bersaing di dunia globalisasi. Harus disertai dengan kemauan atau minat membaca. Nah bagaimana dengan kondisi di Indonesia? Jika dibandingkan dengan Belgia, kondisi minat baca bangsa Indonesia jauh memprihatinkan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Central Connecticut State University tahun 2016, Belgia menempati rangking 18 sedangkan Indonesia menempati rangking 60 dari 61 negara. Lebih jauh menurut UNESCO2 dari 1000 orang Indonesia hanya ada 1 orang yang mau membaca buku dengan serius.

Mark Twain mengatakan orang yang tidak mau membaca tidak memiliki keuntungan dibandingkan dengan orang yang tidak bisa membaca. Oleh karena itu, pemerintah akhir-akhir ini sangat berambisi untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Berbagai program dibentuk seperti wajib membaca 15 menit sebelum waktu pembelajaran dimulai (khususnya bagi siswa SD, SMP atau SMA), Gerakan Indonesia Membaca, Gerakan Cinta Buku, raja dan ratu buku di sekolah serta penunjukan Najwa Shihab sebagai Duta Baca Indonesia. Usaha untuk mempermudah akses masyarakat terhadap buku juga digalakkan seperti pembangunan perpustakaan daerah, pengadaan kampung literasi, dan perpustakaan keliling. Lembaga-lembaga profit dan non profit juga turut membantu meningkatkan minat baca di masyarakat dengan mengadakan lomba membaca, book fair, membangun pusat pembelajaran masyarakat berbasis perpustakaan dan mengadakan gerakan donasi buku. Bahkan cukup banyak relawan-relawan daerah yang berusaha untuk mendekatkan buku kepada anak-anak di pelosok.

Pertanyaannya apakah itu cukup untuk membentuk budaya membaca di masyarakat? Tentu belum cukup. Peran keluarga dalam membentuk kebiasaan membaca juga selayaknya diperkuat. Jika anak tidak menyukai membaca ketika muda, kecil kemungkinan mereka menyukai membaca saat dewasa. Keluarga menjadi tempat pertama dan strategis dalam mengenalkan bahwa membaca itu menyenangkan dan membentuk karakter untuk mencintai buku. Kewajiban pemerintahlah untuk mengedukasi orang tua bahwa kebiasaan membaca itu sangat penting untuk masa depan anak. Langkah selanjutnya adalah mengubah kebiasaan di keluarga seperti mengganti dongeng sebelum tidur menjadi membacakan buku sebelum tidur, kebiasaan membaca bersama anak, memberi hadiah buku, dan bagaimana memotivasi anak agar tetap membaca saat tidak ada tugas dari sekolah. Orang tua juga harus menjadi model dengan banyak membaca karena anak-anak sangat suka meniru.

Peran masyarakat dan lingkungan dalam membentuk budaya membaca juga sangat besar. Sungguh cara pandang yang sangat tidak mendidik di Indonesia dengan mengatakan orang yang suka membaca itu tidak gaul, aneh, dan kuper. Kita juga mungkin berpendapat bahwa dengan kemudahan akses internet maka minat baca akan meningkat. Tetapi apa yang masyarakat baca di internet? Facebook, Twitter, Instagram tentu berisi kata-kata, tetapi apakah itu memberi nilai tambah pada pengetahuan kita?

Indonesia harus siap dengan tantangan globalisasi yang semakin kompleks. Saya, anda, dan kita semua adalah agen perubahan untuk budaya membaca. Pengaruhi orang lain untuk membaca dan tunjukkan bahwa apa yang dibaca itu penting. Stephen King mengatakan “Jika kamu tidak memiliki waktu untuk membaca, kamu tidak punya waktu (atau modal) untuk menulis. Sesederhana itu.” Mari bersama kita bisa untuk Indonesia yang lebih baik!

—————-

Redaksi menerima artikel atau essay dari anggota Alumni Belgia dalam bentuk gagasan dan opini dengan panjang tulisan minimal 550 kata. Artikel dan foto diri dikirimkan melalui email: alumnibelgie@gmail.com.

*Artikel ini merupakan bagian dari tulisan penulis dalam buku Antimainstream Scholarship Destination: Belajar dari Jantung Benua Eropa yang diterbitkan oleh PPI Belgia dan Penerbit Lintas Nalar dengan dukungan penuh dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Brussel dan para alumni.

Categories
Sosok dan Kiprah

Prof. Tegoeh Tjahjowidodo: Kembali Berkarya di Almamater

Tegoeh Tjahjowidodo merupakan salah satu alumni Belgia yang kembali ke almamaternya di KU Leuven sebagai Associate Professor. Lahir pada tahun 1972, Tegoeh menempuh  pendidikan Sarjana (1991-1996) hingga Master (1997-1999) dalam bidang Teknik Mesin di Institut Teknologi Bandung. Sempat bekerja di perusahaan GECI International, sebagai konsultan teknik dalam desain pesawat selama satu tahun, ia melanjutkan studinya di KU Leuven, Belgia pada tahun 2001. Selama studi doktornya, ia terlibat dalam banyak penelitian, terutama tentang dinamika gesekan nonlinier. Setelah menyelsaikan pendidikan doktornya, ia menempati posisi sebagai Peneliti Senior di Pusat Teknologi MECHATRONICS Flanders (FMTC) di Belgia, sebuah pusat penelitian yang menjembatani penelitian akademik dan pengetahuan industri di bidang mekatronik. Di pusat penelitian ini, ia terlibat dalam beberapa proyek, terutama dalam mengembangkan model metodologi diagnosis berbasis sistem mekatronik dan teknik pengurangan kebisingan di mesin.  Selain itu, ia sempat pula berkarir di School of Mechanical and Aerospace Engineering, Division Mechatronics & Design, Nanyang Technological University, Singapore mulai dari Assistant hingga menjadi Associate Professor.

Categories
Sosok dan Kiprah

Dr. Dodi Reza Alex Noerdin , Lic., Econ., MBA: Mengabdi Melalui Legislatif dan Eksekutif

Dr. H. Dodi Reza Alex Noerdin, Lic., Econ., MBA, begitu biasa dituliskan nama dan gelarmnya secara resmi. Alumni dari salah satu universitas di Belgia yang sarat prestasi ini lahir di Palembang, 01 November 1970 dan saat ini mengemban amanah sebagai Bupati Musi Banyuasin Periode 2017 – 2022. Dodi merupakan putra dari mantan Gubernur Sumatera Selatan, Alex Noerdin. Selama menjabat sebagai Bupati, ia terkenal akan kepiawaiannya dalam banyak berbicara di kancah Internasional. seperti dalam Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim (COP) di Polandia (2019) dan di Madrid (2020). Selain menjabat sebagai Bupati, saat ini ia juga menjabat sebagai Ketua Umum KADIN Sumatera Selatan untuk periode kedua (2020-2025). Sebelumnya, pernah juga mewakili Sumatera Selatan dalam menjadi anggota DPR RI partai Golkar periode 2014-2019 dan menduduki jabatan sebagai Wakil Ketua Komisi VI dalam bidang Perdagangan, Perindustrian, Koperasi, Investasi, dan BUMN. Dalam rangka pencalonannya sebagai Bupati Musi Banyuasin pada Pilkada Serentak 2017 dengan dukungan 10 partai parlemen maupun non parlemen, ia mengundurkan diri dari jabatannya sebagai anggota DPR pada akhir tahun 2016. Kecintaannya pada dunia pendidikan, membuatnya untuk berkontribusi secara aktif sebagai dosen di Universitas Sriwijaya di sela-sela kesibukannya.


Dodi sejak muda telah mengukir banyak prestasi. Pendidikan Dasar dan Menengah ditempuh di Indonesian and Canada, di mana pada saat SMA, ia berhasil meraih beasiswa dari Depdikbud untuk Program Pertukaran Pemuda Antarnegara ke Kanada. Tamat SMA, ia menempuh Pendidikan Sarjana Ekonomi di University of Leuven (UCL), Belgia pada tahun 1991-1996, dengan lulusan predikat ‘GrandeDistinction ( HighHonour) Top 2% dan menariknya thesis nya yang ditulis dalam Bahasa Prancis tersebut mendapat Penghargaan BBL PrizeAward. Selanjutnya ia berhasil meraih gelar Master Administrasi Bisnis (MBA) di Université Libre de Bruxelles, Belgia dan lulus dengan Predikat MagnaCumLaude pada saat Juni 1997. Pada Januari 2010, ia kembali mengukir prestasi pada saat beliau mendapatkan Fellowship on IDEAS 2.0, Massachusetts Institute of Technology (MIT) Sloan School of Management, Cambridge MA, USA. Terakhir, pendidikan doktornya diselesaikan di Universitas Padjajaran, Bandung. Lebih dari itu, ia juga pernah mengemban pendidikan formal berupa Pendidikan Penerbang Private Pilot Licence, Deraya Flying School, Bandara Halim Perdana Kusumah, Jakarta (2004) dan Pendidikan Lemhanas DPR/MPR RI (2014).


Berbagai pengalaman menarik dimilikinya selama menjabat baik di ranah legislatif maupun eksekutif. Dodi pernah berpartisipasi pada Forum 100 Kepemimpinan Asia di Filipina tahun 2008 dan menjadi delegasi Indonesia dalam WTO Third Country Training Programme di Singapura pada tahun 2010-2011. Pada saat menjadi anggota DPR RI, ia pernah menjadi pemimpin dalam Delegasi Parlemen RI di Annual Parliamentary Hearing, New York, Amerika Serikat pada Sidang Umum PBB tahun 2013. Sejak tahun 2009, beliau memiliki berbagai jabatan pada DPR/MPR RI yaitu Ketua Grup Kerjasama Bilateral (GKSB) Indonesia-Kazakhstan (19-25 September 2014), Ketua Grup Kerjasama Bilateral (GKSB) Indonesia-Belarusia (2009-2014), Ketua Grup Kerjasama Bilateral (GKSB) Indonesia-Yunani (29 Mei-4 Juni 2016), pada tahun 2015 menjabat sebagai Ketua Panja RUU BUMN Komisi VI DPR RI dan Ketua Panja PMN Komisi VI DPR RI serta menjadi Pimpinan Komisi VI DPR RI periode 2014-2016. Tercatat, sejak 2017 hingga 2021, Dodi berhasil meraih meraih penghargaan dalam jumlah luar biasa yaitu 121 penghargaan.


Di sela-sela kesibukannya ia sangat aktif dalam organisasi profesi, sosial dan keolahragaan. antara lain Direktur Car Racing and Single Seater Racing Bidang Hubungan Internasional dan Event Internasional IMI Pusat. Sejak tahun 2018, ia juga menjabat sebagai Ketua Pengprov Perbasi Sumatera Selatan periode 2018-2022 dan sejak tahun 2017 hingga saat ini juga menjabat sebagai Ketua Umum Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL), Indonesia. Ia juga dipercaya sebagai Ketua Umum KADIN Sumatera Selatan selama dua kali periode yaitu 2015-2020 dan 2020-2025.

Categories
Artikel

Ghent: Akar tradisi dan Pendidikan Tekstil Eropa

Oleh: Ida Nuramdhani Ph.D (Dosen dan Peneliti pada Politeknik STTT Bandung Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, Alumni Ghent University Belgia)

Tekstil. Mendengar kata tersebut, orang mungkin lebih sering mengidentikkannya dengan buruh pabrik, tukang tenun, tukang celup, tukang jahit, dan sejenisnya. Biarpun saya belum pernah melakukan riset terstruktur untuk membuktikan pernyataan tersebut, tapi paling tidak, seperti itulah asosiasi dalam pikiran saya di masa kecil. Saat itu saya bahkan tidak pernah membayangkan bila pada akhirnya masa depan saya bersentuhan dengan dunia tekstil.

Teknologi tekstil bukan menjadi bidang yang populer dalam cakrawala pengetahuan kebanyakan masyarakat di Indonesia. Padahal, bila dilihat dari aspek signifikannya, tekstil berkaitan langsung dengan satu dari tiga kebutuhan primer manusia. Artinya, sepanjang peradaban hidup manusia masih berjalan, maka sepanjang itu pula tekstil harus dan akan tetap eksis. Maka, perkembangan ilmu dan teknologinya pun akan mengiringi tingkat tuntutan akan kebutuhannya. Sebagai contoh, di masa lalu manusia merasa cukup puas berpakaian dengan kain tanpa warna, namun seiring perkembangan zaman, teknologi pewarnaan dan pewarna tekstil turut berkembang, mulai dari hanya satu dua warna sampai mampu membuat semua jenis warna, bahkan hingga warna yang memiliki efek kamuflase atau tidak terdeteksi sinar infra merah untuk bahan tekstil militer pun sudah dapat dibuat.

Kriteria kualitas bahan yang digunakan juga terus berkembang, dari mulai yang mendasar seperti sifat tahan kusut, tahan luntur, tahan api, tahan air, dan seterusnya, hingga yang lebih bersifat fungsional dan fancy seperti anti bakteri, anti sinar UV, anti bau, hingga yang memiliki sifat sebagai sensor, yang di antaranya dikelompokkan dalam bidang tersendiri yang disebut smart atau intelliGhent textiles. Uraian singkat dan pastinya tidak komprehensif di atas, sebetulnya hanya untuk menggambarkan bahwa di dunia luar, ilmu dan teknologi tekstil berkembang cukup pesat dan menjanjikan. Secara teknologi, tekstil bahkan telah mulai dikembangkan pula ke area non-sandang, seperti bidang otomotif, medis, dan yang disebut tekstil maju (advanced textiles) lainnya. Namun, mengapa area teknologi maju kelihatannya belum cukup berkembang di Indonesia, baik dalam level pendidikan, penelitian, maupun industri? Sebuah pertanyaan retoris yang kadang memang sangat sulit untuk dijawab.

Kembali pada cerita tentang akar industri tekstil di Belgia, sejarah mencatat bahwa tekstil merupakan salah satu industri prioritas di Belgia sejak masa abad pertengahan. Hingga sekitar abad ke-19, kota Ghent menjadi pusat industri wol, serta produksi tekstil dan pakaian yang paling diperhitungkan di Eropa. Dengan lokasi yang merupakan pertemuan dua sungai yang menghubungkan antar kota di hampir seluruh daratan Eropa serta dekat ke pelabuhan, aktivitas perdagangan pun semakin terdorong dan membawa kemajuan pesat bagi negara Belgia sejak revolusi industri terjadi. Saat itu, industri mesin pertenunan modern pun pertama kali diperkenalkan di Ghent. Bahkan, sejak wilayah Ghent dikuasai pemerintah kerajaan Belanda, hubungan perdagangan dengan Indonesia yang saat itu dikenal dengan nama Hindia Belanda yang juga berada di bawah kekuasaan kolonial kala itu, sempat terbangun sangat baik.

Saat Universiteit Gent didirikan, teknologi tekstil termasuk salah satu program studi unggulan dan yang cukup kuat. Berbagai pusat penelitian dan inovasi tekstil didirikan, terutama untuk mendukung kemajuan industri saat itu. Hingga sekarang, di Belgia, khususnya di Ghent, pendidikan dan penelitian di bidang tekstil masih terus berlanjut dan dikembangkan. Beberapa industri mesin tekstil Belgia masih cukup kuat, meskipun aktivitas industri proses tekstil bisa dikatakan sudah tidak ada lagi. Pabrik tekstil konvensional yang terakhir di kota Ghent ditutup pada sekitar akhir 90-an. Dalam konteks perkembangan ilmu dan teknologi tekstil, istilah industri tekstil konvensional identik dengan industri tekstil sandang yang menjalankan proses pengolahan serat hingga menjadi kain yang digunakan untuk proses produksi garmen, melalui proses-proses seperti pemintalan, pertenunan, pencelupan, pencapan, penyempurnaan, termasuk proses-proses khusus lainnya. Industri tekstil Belgia saat ini diarahkan pada area tekstil maju yang tidak memerlukan lahan pabrik sangat besar, jumlah pekerja yang banyak, dan juga proses produksi yang menghasilkan limbah buangan yang berisiko terhadap lingkungan. Hal itu pula yang terjadi di banyak negara maju lainnya.

Dengan fakta bahwa pusat industri tekstil konvensional saat ini bergeser ke negara-negara di Asia termasuk Indonesia, pendidikan tekstil di Ghent justru masih cukup mengakar dan dipertahankan. Hanya saja, UGhent yang merupakan research university saat ini hanya menyelenggarakan pendidikan tingkat S-2 ke atas, sedangkan pendidikan setingkat sarjana yang juga masih memasukkan penguasaan terhadap teknologi proses konvensional lebih diarahkan pada pendidikan terapan (vocational) yang diselenggarakan oleh HoGhent (Hogeschool Ghent, atau University College Ghent). Di UGhent pula, Autex (Association of Universities for Textiles), yang merupakan asosiasi yang beranggotakan universitas-universitas penyelenggara pendidikan dan penelitian di bidang tekstil berpusat.

Selain berkolaborasi dalam menentukan arah pengembangan ilmu dan teknologi, termasuk menyelenggarakan forum ilmiah berbentuk konferensi internasional di bidang tekstil secara bergilir di negara-negara anggotanya, Autex juga melakukan sebuah inovasi pendidikan yang semestinya dapat menjadi alternatif model pendidikan. Autex yang berbasis di UGhent merupakan penyelenggara program international master yang disebut dengan E-TEAM (European Masters Degree in Advanced Textile Engineering). Gambaran sederhana program E-TEAM adalah pendidikan master di bidang tekstil yang diselenggarakan secara kolaboratif oleh universitas-universitas anggota AUTEX. Pengajarnya adalah para profesor ahli di bidang masing-masing dari lintas universitas, termasuk tempat penyelenggaraan pendidikan pun berpindah-pindah negara setiap semesternya. Hal ini selain memberi kesempatan pada peserta berupa pengalaman tinggal di beberapa negara yang berbeda sepanjang masa pendidikannya, juga memberi gambaran nyata mengenai special expertise yang dimiliki oleh masing-masing universitas penyelenggara pendidikan tekstil.

Dengan perluasan makna di bidang ilmu dan teknologi tekstil yang sudah dimulai sejak kurang lebih 10-20 tahun terakhir, pendidikan dan penelitian tekstil di negara-negara maju termasuk Belgia mulai memasuki wilayah advanced textiles yang multidisipliner. Di Eropa, penelitian bidang smart textiles sudah dikembangkan hingga pada tahap prototipe. Smart textile adalah salah satu cabang ilmu dan teknologi tekstil maju yang pada proses pengembangan wearable textile dengan sifat-sifat cerdas dan fungsional seperti memiliki kemampuan sensor, atau antena, bahkan hingga pengembangan energy storage berbasis bahan tekstil. Beberapa sudah diaplikasikan dalam skala industri dan sudah masuk tahap komersialisasi. Penelitiannya pun masih dikembangkan secara intensif.

Bagaimana dengan Indonesia?

Indonesia, sepertinya masih cukup tertinggal dalam hal pengembangan penelitian dan pendidikan bidang teknologi tekstil maju, meskipun beberapa sudah mulai diperkenalkan. Padahal, ditinjau dari latar belakang sejarah dan perkembangan industrinya hingga hari ini, tidak seharusnya Indonesia mengalami ketertinggalan tersebut. Ditambah lagi, hingga saat ini belum ada satu pun penyelenggara pendidikan magister dan doktoral yang berfokus secara khusus di bidang tekstil di dalam negeri. Hal ini pula yang menjelaskan, mengapa saya begitu teguh pada keinginan untuk melanjutkan pendidikan doktoral bidang tekstil di luar negeri, yang pilihannya akhirnya saya jatuhkan ke UGhent di Belgia. Meskipun pada awalnya keinginan tersebut secara kasat mata kadang lebih terbaca seperti mimpi yang tidak biasa. Tidak biasa karena tekstil adalah bidang yang tidak populer, dan juga bukan mainstream. Tidak biasa juga karena berbagai latar belakang nonteknis terkait alasan-alasan pribadi yang sudah diceritakan sebelumnya. Namun tekad untuk berani menempuh jalan panjang yang tidak mudah hingga ke belahan bumi utara ini semoga pada waktunya nanti akan menghasilkan sesuatu yang dapat menjadi inspirasi dan juga katalis bagi lompatan kemajuan industri dan pendidikan tekstil di Indonesia.

Indonesia, khususnya kota Bandung, bisa dikatakan memiliki akar sejarah tekstil yang hampir sama dengan kota Ghent di Belgia, meskipun dengan starting point yang berbeda karena sejarah kemerdekaan yang dari segi waktu terpaut jauh. Di masa lalu, cikal bakal industri tekstil Indonesia tumbuh dari pinggiran kota Bandung. Hingga saat ini, wilayah Bandung dan lebih luas lagi Jawa Barat, sepertinya masih menjadi pusat industri tekstil terbesar di Indonesia. Cikal bakal lembaga pendidikan tekstil Indonesia bernama TIB yang didirikan di masa kolonialisme oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1922, juga berlokasi di kota Bandung, yang setelah mengalami perubahan berkali-kali, saat ini bernama Politeknik STT Tekstil. Bahkan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin), pertama kali diciptakan pada tahun 1926 oleh Daalenoord, salah seorang ahli tekstil dari Textiel Inrichting en Batik Proofstation Bandoeng (TIB). Majalaya, salah satu pionir sentra industri tekstil di Indonesia, adalah tempat ATBM pertama kali didemonstrasikan oleh Bupati Bandung kala itu.

Pada era tahun 80-90-an, industri tekstil Indonesia sempat menjadi salah satu primadona penyokong pembangunan bangsa. Namun, hibernasi pun sepertinya sempat dialami industri ini, terutama pendidikan dan penelitiannya, terlebih dengan kesalahan besar pihak tertentu yang pernah menyebut tekstil sebagai sunset industry. Akan tetapi nyatanya, hingga hari ini, industri tekstil dan produk tekstil masih dibutuhkan untuk tumbuh di negeri ini. Sebagai industri padat karya, perannya terhadap aspek sosial ekonomi masyarakat pun tentu sangat signifikan. Terlebih dengan fakta bahwa sampai sekarang, tekstil masih masuk ke dalam lima besar sektor nonmigas penyumbang devisa terbesar bagi pendapatan negara, maka industri ini sepertinya masih akan terus menjadi salah satu industri prioritas hingga puluhan tahun ke depan. Maka tidaklah berlebihan bila pendidikan dan riset di bidang tekstil masih dianggap sangat perlu dikembangkan untuk mendukung keberlangsungan aktivitas industri tersebut.

Dengan jumlah industri tekstil yang masih besar dan kuat, yang berarti tingkat kebutuhan tenaga kerjanya pun tinggi, Indonesia hanya memiliki satu perguruan tinggi tekstil milik pemerintah yang menyelenggarakan pendidikan setingkat sarjana, disamping beberapa lainnya yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi swasta dengan level D-3 ke bawah, yang jumlahnya pun tidak habis dihitung dengan jari tangan. Bahkan, eksistensi pendidikan tekstil pun pernah ada  dalam situasi “terancam” dibubarkan karena ada perbedaan mindset beberapa pihak mengenai posisi keilmuan tekstil dalam rumpun ilmu pengetahuan yang berlaku di Indonesia. Sebuah ironi yang memang sering terjadi di tanah air. Padahal bila berkaca pada negara lain, bahkan negara-negara maju yang industri tekstilnya sudah tidak eksis lagi sekalipun, seperti di Belgia dan New Zealand, program studi tekstil masih bertahan dan bahkan berkembang dengan cukup baik di universitas-universitas ternama di negara-negara tersebut. Termasuk di beberapa negara tetangga yang juga tidak memiliki industri tekstil sepopuler Indonesia seperti Singapura dan Malaysia. Lebih jauh lagi bila kita membandingkannya dengan India dan Tiongkok, misalnya. Industri dan pendidikan tekstil berkembang secara paralel dengan sangat baik di negara-negara tersebut. Ada puluhan universitas yang menyelenggarakan program studi tekstil dengan tingkat minat mahasiswa yang masih sangat tinggi.

Kolaborasi penelitian dengan negara lain seperti Belgia perlu semakin dikembangkan untuk mempercepat proses alih teknologi di bidang tekstil, walau teknologi proses untuk mendukung eksistensi industri tekstil konvensional masih tetap dibutuhkan dan perlu dipertahankan. Indonesia bahkan seharusnya dapat mengambil alih posisi sebagai center of excellence di bidang teknologi proses tekstil karena kemudahan bersinergi dengan industri yang ada. Sebagai tambahan, beradaptasi dengan kebutuhan akan perlunya industri yang ramah lingkungan, juga harus mendapat perhatian cukup.

——-

Redaksi menerima artikel atau essay dari anggota Alumni Belgia dalam bentuk gagasan dan opini dengan panjang tulisan minimal 550 kata. Artikel dan foto diri dikirimkan melalui email: alumnibelgie@gmail.com.

*Artikel ini merupakan bagian dari tulisan penulis dalam buku Antimainstream Scholarship Destination: Belajar dari Jantung Benua Eropa yang diterbitkan oleh PPI Belgia dan Penerbit Lintas Nalar dengan dukungan penuh dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Brussel dan para alumni.

Categories
Informasi

Informasi Beasiswa Doktoral di Ghent University Belgia

Saat ini terdapat beberapa departemen yang sedang mempunyai vacancy untuk para kandidat yang berminat untuk menjadi mahasiswa doktoral di Ghent University, Belgia. Beberapa departemen yang membuka kesempatan doktoral dengan deadline Bulan Juli 2021 antara lain:

Department of Communication Sciences
Department of Applied Physics
Department of Translation, Interpreting and Communication
Department of Information Technology
Department of Physics and Astronomy
Department of Biomolecular Medicine
Department of Electronics and Information Systems
Department of Developmental, Personality and Social Psychology
Department of Human Structure and Repair
Department of Biochemistry and Microbiology
Department of Animal Sciences and Aquatic Ecology
Department of Political Sciences
Department of Large Animal Internal Medicine
Department of Basic and Applied Medical Sciences
Department of Economics

Informasi lebih lanjut:
https://www.ugent.be/en/work/scientific?b_start:int=0

Categories
Sosok dan Kiprah

Dr. Yuki Indrayadi, ST., MME: Berkontribusi dan Berkiprah di Berbagai Instansi

Dr. Yuki Indrayadi sukses berpetualang dan berkontribusi di banyak instansi di negeri ini. Sejak awal Dr. Yuki menyukai bidang pendidikan. Sejak memulai program sarjananya di  Institut Teknologi Bandung jurusan Teknik Industri pada kurun tahun 1991-1996, ia melanjutkan studi Master dan Doktornya di Katholieke Universiteit Leuven, Belgia jurusan Teknik Mesin. Pada 1998, ia berhasil lulus gelar Master dengan predikat Cumlaude dan gelar langsung menyelesaikan program doktor pada tahun 2002 dengan disertasi yang berjudul “Distributed Dispatching Control for Dynamic Flow-line Manufacturing Systems” pada tahun 2002. Selama masa studinya, ia juga bekerja menjadi asisten peneliti di kampusnya. Banyak pengalaman karir yang telah ditempuh. Seusai melanjutkan studinya, pada tahun 2003-2004, bekerja sebagai ketua peneliti di PT Indokapital Sekuritas. Kemudian , ia berkecimpung di dunia pendidikan sebagai dosen di Swiss German University (SGU) di Fakultas Teknik dan Teknologi Informasi serta Fakultas Administrasi Bisnis. Di tengah kesibukannya sebagai dosen, ia juga bergabung juga di instansi lain seperti sekretaris/koordinator analis di perusahaan Telekomunikasi Indonesia. Sempat menjabat sebagai Senior Vice President di PT Infinite Global Kapital dan Direktur di PT Quant Capital Management, pada Oktober 2018 ia kembali lagi di perusahaan Telekomunikasi Indonesia untuk menjabat sebagai kepala BoC Sekretariat. Setelah itu, ia menjadi bagian dari PT Semen Indonesia sebagai Independent Committee Member (2013-2016) dan pada tahun 2016- 2019 menjabat sebagai sekretaris dewan komisaris PT Pertamina (Persero). Setelah itu, ia beraktifitas kembali sebagai dosen di International University Liaison Indonesia sampai saat ini. 

Categories
Artikel

Belgia Dulu dan Jejaknya Kini

Oleh: Galuh Syahbana Indraprahasta, Ph.D (Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Alumni Ghent University Belgia)

Perkembangan kota-kota di Belgia, beserta Belgia sendiri sebagai suatu negara berdaulat, tidak dapat dipisahkan dari aspek sejarah yang melekat dan membentuknya. ‘Benelux’, atau Belgium-Netherlands-Luxemburg, pada masanya pernah mejadi suatu kesatuan wilayah. Pada waktu Belanda mendatangi Indonesia untuk pertama kali (antara akhir abad ke-16 di Banten dan awal abad ke-17 di Ambon), Benelux (plus sebagian kecil wilayah utara Perancis sekarang) masih merupakan satu kesatuan wilayah dibawah imperium Perancis (dan sebagian Prusia/Jerman) dengan nama ‘Burgundian Netherlands’. Peruntungan nasib wilayah ini berubah setelah peperangan yang berkepanjangan selama beberapa abad; membuat wilayah ini terpecah menjadi dua, yaitu ‘Dutch Republic’ (awal mula wilayah negara Belanda) dan ‘Southern Netherlands’ (awal mula wilayah negara Belgia dan Luxemburg), tepatnya pada pertengahan abad ke-17. Meski Belgia sempat kembali menjadi bagian dari Perancis semasa ‘Revolusi Perancis’, negara ini kembali bersatu dengan Belanda setelah kekalahan Perancis pada tahun 1814. Nama negara unifikasi Benelux lama pada waktu itu adalah ‘United Kingdom of the Netherlands’. Namun, dengan terjadinya revolusi Belgia pada rentang 1830-1839, negara terakhir ini juga tidak berumur panjang dan menyebabkan terbentuknya 3 negara baru, yaitu Belanda, Belgia, dan Luxemburg. Tidak mengherankan jika sampai saat ini, dalam kaitannya dengan bahasa, ada relasi kuat antara negeri Belanda dengan Belgia bagian utara (Flanders); begitupun antara Belgia bagian selatan (Wallonia) dengan Luxemburg dan Perancis.

Eropa daratan pada masanya, terlebih sebelum dunia baru Amerika Serikat mapan dan Jepang masih asyik dengan politik tertutupnya, menjadi pusat dari peradaban dunia: ekonomi dan pengetahuan. Belanda, negara yang begitu dekat di telinga kita, pernah menjadi pusat peradaban dunia di eranya pada abad ke-17/18, tepat saat dia dengan pede-nya melakukan ekspansi ke Nusantara. Amsterdam menjadi mimpi bagi setiap pengembara dan pengejar rente dunia (layaknya Manhattan NY saat ini sebagai pusat kapitalisme modern), begitupun dengan Antwerpen (Belgia) yang menjadi pelabuhan terbesar saat itu. Sungguh, jika kita berkesempatan berkunjung ke Antwerpen, jangan lupa untuk mampir ke stasiun kereta apinya yang begitu tersohor. Tidak mengherankan jika stasiun ini termasuk salah satu yang paling indah di dunia, silakan saja googlinguntuk mengkonfirmasi legasi ini. Belgia, apapun nama yang melekat pada zaman itu, telah menjadi besar pada masanya, seiring dengan berkembangnya wilayah ‘Belanda kuno’ serta kebangkitan Eropa di Abad Pertengahan. Bahkan sebelum Belanda mempunyai universitasnya sendiri (Universiteit Leiden, universitas pertama di Belanda, berdiri tahun 1575), masyarakatnya ramai mengunjungi Belgia, khususnya Leuven, untuk menimba ilmu di Katholieke Universiteit Leuven (universitas pertama di Belgia, berdiri tahun 1425), perguruan tinggi yang sampai sekarang masih tegak berkibar. Leuven sampai saat ini masih menjadi kota mungil yang hidup karena keberadaan mahasiswanya, bahkan dengan proporsi yang tidak beda jauh dengan jumlah penduduk yang benar-benar tinggal di sana.

Di antara cerita masa lampau tersebut, momentum utama kejayaan Belgia pasca menjadi negara berdaulat adalah ketika revolusi industri mewabah seantro Eropa Barat. Contoh paling konkrit dari masa awal industrialiasi ini adalah Belgia merupakan negara kedua, setelah Kerajaan Inggris, yang memasuki revolusi industri dengan beragam jenis industri yang berkembang, terutama, seperti halnya Inggris, tekstil. Tidak disangka nyana bahwa negara yang tidak lebih luas dari pulau Jawa ini menjadi lentera bagi Eropa daratan. Yup, sebelum kita semua mengenal segala kompleksitas industri dijital yang saat ini menguasai dunia dengan beragam merk dari, terutama, Jepang dan Amerika Serikat (a.l. Apple, Matsushita, Google, Facebook, Sony, Yahoo!), jejak revolusi industri dimulai dari tekstil serta beragam industri permesinan dan pertambangan. Sejatinya industri tekstil dan turunan definisinya tidak pernah mati sampai sekarang, hanya berdiversifikasi dan berganti epicentrum. Persaingan Nike dengan Adidas, beserta dengan tawaran teknologi mutakhirnya di beragam apparel olahraga, merupakan salah satu contoh bagaimana industri ini masih memikat dan terus berkembang.

Perkembangan ekonomi dan industrialisasi Belgia yang signifikan kemudian mendorong beberapa kotanya menjadi pusat dari peradaban modern dan tetap meninggalkan jejaknya hingga saat ini. Sebagai contoh, Gent merupakan kota industri utama pada masa jayanya sampai akhir abad ke-19, begitupun dengan Liège dan Charleroi yang sempat menjadi pusat industri baja Eropa sampai sebelum Perang Dunia II. Sebagai salah satu jejak kejayaannya, Université de Liège saat ini menjadi tempat menarik bagi beberapa mahasiswa Indonesia (dan mahasiswa dari negara lainnya) untuk menimba ilmu di bidang metalurgi, pertambangan, dan sejenisnya. Adapun Charleroi menjadi hub Belgia untuk Eropa saat ini, terutama dengan keberadaan bandar udara khusus low-cost carrier, Ryan Air, sebuah maskapai yang tampaknya Air Asia coba tiru untuk regional Asia Pasifik. Kedua kota ini masih tetap menjadi salah satu pusat industri Belgia saat ini, terutama di dalam silion industriel (kawasan industri). Begitupun Gent, dengan perkembangan industri tekstil yang tidak pernah tampak berhenti, membuat Universiteit Gent menjadi salah satu tujuan belajar bagi banyak mahasiswa, termasuk dalam bidang tersebut.

Melihat negeri Belgia saat ini dimana antarkotanya dihubungakan dengan jaringan kereta api yang sangat mapan, juga tidak bisa dilepaskan dari masa revolusi industri di atas. Dengan berkembangnya teknologi uap, baja, dan kebutuhan akan distribusi (produksi dan pasar) yang cepat saat itu, Belgia memberikan perhatian besar terhadap pembangunan jaringan transportasi, termasuk kereta api. Bahkan, Belgia merupakan salah satu pusat utama pengembangan kereta api di Eropa daratan. Sebagai ilustrasi, pada tahun 1835, Léopold I (Raja Belgia saat itu) membangun jaringan kereta api pertama di Eropa daratan, menghubungkan antara Brussel dan Mechelen. Begitupun dengan jaringan dalam kotanya, jaringan tram dibangun di beberapa kota besar. Tidak membutuhkan waktu lama bagi Belgia untuk menjadi pemain utama khususnya dalam bidang perkeretaapian. Pada awal tahun 1900an, Belgia telah menjadi salah satu eksportir utama (baik material dan sistem) perkeretaapian (termasuk tram) ke banyak negara, termasuk beberapa negara di Amerika Selatan, China, Mesir, Kongo, dan termasuk pengembangan jaringan metro/subway Paris (Paris Métro).

Belgia juga mengembangkan jaringan infrastruktur lainnya, seperti pelabuhan dan kanal yang sebenarnya sudah berkembang jauh sebelum kereta api muncul. Secara garis besar, pembangunan infrastruktur menjadi salah satu fokus utama mengingat ekonomi Belgia sangat tergantung dengan negara lainnya, baik dari sisi perdagangan (ekspor dan impor) maupun mobilitas manusia, pengetahuan, dan lainnya. Sebagai contoh, saat ini pelabuhan Antwerpen merupakan pelabuhan terbesar kedua di Eropa setelah Rotterdam dari sisi volume kargo. Selain merupakan kota pelabuhan utama Belgia yang memiliki sejarah panjang dengan Afrika, Antwerpen juga merupakan kota permata terbesar di dunia. Sebagai catatan, permata juga menjadi komoditi ekspor utama Belgia, meskipun bahan bakunya didapatkan dari negeri-negeri seberang lautan. Dengan keunggulan lokasional ini, Universiteit Antwerp merupakan salah satu institusi yang menawarkan keunggulan keilmuan di bidang kemaritiman, baik dari sisi engineering, manajemen, maupun ekonomi. Selain Antwerpen, Brugge dan Gent juga memiliki pelabuhan terbesar, secara berurutan, kedua dan ketiga di Belgia, dengan spesifikasi peruntukan yang berbeda-beda. Brugge, kota mungil dan turis nomor satu di Belgia, merupakan pelabuhan Eropa terbesar untuk lalu-lintas RoRo (roll-on/roll-off) dan gas alam. Kota Brugge ini juga sempat mampir sebagai latar utama di film Bollywood ‘PK’ karya Amir Khan yang tayang dan booming pada tahun 2014. Memang keindahan kota ini tiada tara. Anda bahkan bisa membayar toilet dengan British poundsterling untuk memfasilitasi membludaknya pelancong dari negeri Ratu Elizabeth.        

Selain itu, dengan masa industrialisasi yang sudah berubah dengan cepat dan Eropa yang telah memasuki masa ‘post-industrial economy’, terutama pasca restrukturisasi ekonomi global pada tahun 1970an, perkembangan ekonomi Belgia juga banyak mengalami perubahan. Dalam catatan resmi, sekitar 74% dari produk domestk bruto (PDB) Belgia saat ini disumbangkan oleh sektor jasa. Industri tetap ada dan berlokasi di beberapa daerah, khususnya yang didesain sebagai kawasan industri. Adapun kebanyakan dari aktivitas industri ini, sudah lebih berorientasi pada aktivitas penelitian dan pengembangan (R&D). Oleh karena itu, beberapa kampus seperti Universiteit Gent, Katholieke Universiteit Leuven, dan universitas lainnya menjalin hubungan erat dengan industri-industri yang ada. Inilah yang kemudian kita sering sebut sebagai ‘knowledge-based economy’, ekonomi yang didorong oleh pengetahuan dan inovasi. Adapun divisi ‘kerah-biru (blue-collar)’ dari industri, alias pabrik-pabrik, sudah banyak ber(re)lokasi ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, mengejar biaya produksi (termasuk buruh) yang jauh lebih murah dan pasar yang tumbuh mekar. Seperti banyak orang saksikan, Greater Jakarta (Jabodetabek dan sekitarnya) menjadi epicentrum dari para kerah-biru awal abad ke-21; menyajikan pemandangan pabrik, truk tronton, dan demonstrasi buruh sebagai ekspresi ruang sosial-ekonomi sehari-hari; terkadang membuat stres para pelancong ibukota yang ingin mampir ke Bandung. Sayang sekali, di Indonesia, antara industri dan lembaga produksi pengetahuan (universitas dan lembaga litbang) masih berada dalam meja yang berbeda.

Secara ekonomi mungkin Eropa sudah mengalami masa post-industry, tetapi secara maknawi aktivitasnya menjadi lebih high-end, termasuk sebagai pusat R&D, maupun broker perdagangan. Dan memang dengan pergeseran ini, Belgia tampak tidak menjadi satu-satunya pemain utama dalam industri dunia, kecuali industri cokelat dan beragam produk bio-science-engineering. Persaingan semakin ketat dan negara-negara baru bermunculan, termasuk Asia Timur yang semakin mendominasi, khususnya dalam bidang elektronik dan otomotif. Namun yang tidak kalah pentingnya adalah Brussel yang menjadi pusat dari broker ekonomi dan politik. Beragam deal perdagangan, industri, dan politik tampaknya menjadi fungsi terbaru Belgia di tengah jantung Eropa, maupun antara Eropa dengan Amerika dan Asia. Kota-kota di Belgia lainnya, seperti diceritakan secara singkat, berkembang berkombinasi dengan sejarah masa lampau. Brussel menjadi hub Eropa dan tempat bertemunya 4 kereta cepat berbeda merk (Thalys, Eurostar, TGV, dan ICE). Antwerpen tetap angkuh sebagai kota pelabuhan utama, Gent menjadi kota kreatif UNESCO dalam musik, Brugge menjadi daya tarik utama wisata, Liège menjadi peradaban utama di Wallonia (bagian berbahasa Perancis), Charleroi masih tertatih dengan transisi industri dan berupaya mempertahankan fungsi hub-nya, dan Leuven tetap mungil sebagai kota akademik. Begitupun dengan banyak kota-kota lainnya yang telah secara sengaja saya plutonisasi dalam cerita di buku ini. Satu hal yang pasti, antarkota saling berteman, dikoneksikan dengan jaringan transportasi yang mapan; dan Brussel sebagai ibu dari kota-kota yang ada, mengkoneksikan dirinya pada jaringan yang lebih luas, menjadi simbol dari politik-ekonomi Belgia yang secara gradual terus berubah.

——-

Redaksi menerima artikel atau essay dari anggota Alumni Belgia dalam bentuk gagasan dan opini dengan panjang tulisan minimal 550 kata. Artikel dan foto diri dikirimkan melalui email: alumnibelgie@gmail.com.

*Artikel ini merupakan bagian dari tulisan penulis dalam buku Antimainstream Scholarship Destination: Belajar dari Jantung Benua Eropa yang diterbitkan oleh PPI Belgia dan Penerbit Lintas Nalar dengan dukungan penuh dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Brussel dan para alumni.

Categories
Sosok dan Kiprah

Prof. Dr. Kees Bertens: Pakar Etika Terkemuka Indonesia

Prof. Dr. Kees Bertens tidak lahir di Indonesia, namun kecintaannya pada Indonesia telah membawanya untuk tinggal dan berkarya di Indonesia. Prof. Bertens lahir di Belanda, tepatnya di kota Tilburg, pada 1936. Kees muda menempuh pendidikan Doktor dalam bidang filsafat pada tahun 1968 di Katholieke Universiteit Leuven, Belgia. Selama masa studinya di Belgia, setiap hari minggu selalu memiliki aktivitas membantu paroki atau biara suster di Belgia.Ia juga memiliki pengalaman sebagai Pastoral di Perancis pada saat libur panjang di kota La Courneuve. Pada tahun 1965, ia juga pernah menjadi pemimpin misa di Belanda. Itulah sebabnya ia dijuluki sebagai seorang rohaniawan. Sejak Tahun 1968, Prof. Bertens menjadi seorang rohaniawan Gereja Katholik di Jakarta.

Selain sebagai rohaniawan, saat ini ia juga sesosok tokoh etika Indonesia yang banyak berkecimpung di dunai akademis sebagai ahli filsafat dan teologi. Beberapa pengalaman profesi yang pernah dijalani antara lain yaitu pengajar di Seminari MSC, Belanda selama 2 tahun, Seminari Pineleng selama 11 tahun, STF Driyarkara selama beberapa tahun dan sisanya sebagai dosen di Universitas Katolik Atma Jaya yang merupakan tempat mengajar paling lama yaitu sejak tahun 1983. Di universitas tersebut, Prof. Bertens menjabat sebagai Direktur Pusat Etika pada tahun 1984-1995. Bahkan pada tahun 1990-1998, beliau juga dipercaya sebagai ketua HIDESI (Himpunan Dosen Etika Seluruh Indonesia). 

Pada tahun 2004 – 2009, ia membuka layanan konsultasi eksternal pada Komisi Nasional Bioetika dan pada tahun 2003 hingga saat ini, beliau melayani konsultasi eksternal pada Komisi Nasional Etika Riset Kesehatan. Hingga saat ini, bberapa karya buku telah diterbitkan, diantaranya yaitu  “Etika” (1993); “Membahas Kasus Etika Kedokteran” (1996); ”Pengantar Etika Bisnis” (2000); ”Perspektif Etika” (2001); ”Aborsi sebagai Masalah Etika” (2002); ”Keprihatinan Moral” (2003); ”Sketsa-sketsa Moral” (2004); ”Metode belajar untuk Mahasiswa” (2005); Psikoanalisis Sigmund Freud” (2006); “Perspektif Etika Baru” (2009).

—-

Categories
Artikel

Jago Bahasa Perancis, bisa dari Belgia

Oleh : Andriarto Andradjati (Pendiri dan Pengajar Kursus Bahasa Perancis “OPERA – Obrol Perancis”, Alumni Athénée Royal Crommelynck de Woluwe Saint – Pierre, Brussel)

Mungkin belum diketahui secara umum oleh banyak orang Indonesia bahwa Belgia juga negara berbahasa Perancis. Lebih dari 20 tahun lalu, pada 1997 – 1998 saya belajar bahasa Perancis untuk pertama kalinya guna pergi ke Belgia, bukan ke Perancis. Saya dikursuskan oleh ayah saya karena karena saya akan ikut beliau bertugas sebagai diplomat Indonesia di Brussel. Waktu itu saya masih kelas 5 SD. Les tersebut saya jalani selama sekitar dua bulan di Alliance Française Cabang Bogor (kini sudah tiada).

Ternyata, sesampainya saya di Belgia pada awal tahun 1998, ada dua hal yang masih menjadi kekurangan saya : 1) kursus selama 2 bulan belum cukup untuk bisa berbicara dan mengerti bahasa Perancis ; 2) saya belum tahu bahwa bahasa Perancis ternyata memiliki varian. Bahasa Perancis di Belgia tidak sepenuhnya sama dengan di Perancis. Sementara sewaktu masih di Indonesia, oleh guru Alliance Française saya hanya diajari bahasa Perancis Perancis. Maka, sesampainya di Belgia, saya kaget saat mendengar dan melihat kosa kata yang berbeda untuk maksud kata yang sama dengan di bahasa Perancis Perancis.

Kosa kata yang pertama kali mengejutkan saya adalah “septante”, angka 70 dalam bahasa Perancis Belgia. Septante adalah tujuh puluh, seventy dalam bahasa Inggris. Sedangkan di catatan pelajaran saya dari Alliance Française, saya diajarinya “soixante – dix”. Begitulah istilah 70 dalam bahasa Perancis Perancis. Terjemahan tekstualnya enam puluh sepuluh (60 + 10). Kemudian 90 di bahasa Perancis Belgia adalah “nonante” (sembilan puluh). Sedangkan di bahasa Perancis Perancis istilahnya “quatre – vingt – dix” (4 (quatre) x 20 (vingt) + 10 (dix) atau juga 80 (quatre – vingts) + 10 (dix)).

Dampak dari kemampuan bahasa Perancis saya yang masih relatif nihil, saya gagal naik kelas. Saya tinggal kelas di kelas 5 SD dan oleh sekolah saya, École Communale La Fermette de Wezembeek – Oppem, saya disuruh ambil kursus bahasa Perancis selama libur musim panas Juli – Agustus 1998. Memang, ayah saya menyarankan ambil sekolah lokal yang frankofon (berbahasa Perancis) daripada yang néerlandophone (berbahasa Belanda). Sebab menurut pertimbangan beliau, bahasa Perancis lebih dipakai di dunia internasional daripada bahasa Belanda. Ada dampak lain dari kemampuan linguistik masih nihil saya. Kala ibu pemilik rumah yang kami sewa datang saat ayah saya sedang tidak ada di rumah, saya tidak bisa mengerti hal yang madame tersebut sampaikan. Beliau tidak bisa berbahasa Inggris. Hanya bisa bahasa Belanda dan Perancis. Bahasa Belanda saya lebih tidak bisa dibandingkan bahasa Perancis. Sebab, kala itu saya sama sekali belum pernah mempelajarinya selain via pelajaran seminggu sekali di sekolah.

Akhirnya, saya pun mengikuti arahan dari sekolah saya. Pada bulan Juli dan Agustus 1998, saya kursus bahasa Perancis di Institut de Formation de Cadres pour le Développement (IFCAD) di ibukota Brussel. Ditambah dengan mengulang kelas 5 SD, saya lambat laun makin bisa bahasa Perancis. Pada April tahun 2000 saat kelas 6 SD, saya diambil jadi wakil sekolah saya pada lomba dikte bahasa Perancis nasional Belgia, La Dictée du Balfroid. Luar biasa, saya berhasil melaju sampai babak semi final ! Dari tadinya zéro pada 1998 akhirnya menjadi héros pada tahun 2000 !

Sesudah lulus dari SD La Fermette, saya lanjut ke tingkat SMP di Athénée Royal Crommelynck di Commune Woluwe Saint – Pierre, di ibukota Brussel. Saya bersekolah di situ hingga pulang kembali ke Indonesia pada tahun 2002. Di Athénée Royal Crommelynck, saya belajar satu bahasa asing lainnya yaitu bahasa Latin. Sehingga, dari pengalaman tinggal di Belgia, saya jadi membawa ilmu tiga bahasa berbeda : bahasa Perancis, bahasa Belanda dan bahasa Latin. Adapun bahasa Jerman, bahasa resmi ke – tiga negara Belgia, sudah pernah saya pelajari sebelumnya saat ayah saya ditugaskan di Wina, Austria. Di Belgia sendiri hanya sempat saya gunakan sebentar di École La Fermette ketika wali kelas saya pada awalnya mencoba menjelaskan ke saya pakai bahasa Jerman. Selebihnya, saya tidak pernah menggunakannya mengingat orang germanophone di Belgia juga sedikit sekali jumlahnya. Bahasa Inggris ? Secara umum saya bisa tapi di Belgia nyaris tak pernah terpakai. Hanya bahasa Perancis dan sedikit bahasa Belanda.

Sepulang dari Belgia, saya sempat mendaftar lanjut SMP di Lycée Français di Cipete, Jakarta. Sebabnya, saya ingin stabilitas bisa melanjutkan studi pakai bahasa yang sudah empat tahun saya pergunakan (bahasa Perancis). Rupanya, saya tak diterima. Sebab, saya orang yang bisa bersekolah di sekolah lokal (sekolah berbahasa Indonesia). Saya bukan orang prioritas yang tak punya opsi selain bersekolah dalam bahasa Perancis. Tapi, saya sempat menjalani tes masuk Lycée Français. Di situ, ada seorang calon siswi asal Jepang. Saat sedang mengerjakan tesnya, dia ditanya oleh pengawas mengapa dirinya menggunakan kata “nonante”. Padahal, di bahasa Perancis Perancis kan istilahnya “quatre – vingt – dix”. Siswi itu menjawab bahwa “nonante” adalah istilah 90 yang dia gunakan saat dulu tinggal di Swiss. Dari situ, saya jadi dapat pengetahuan bahwa ternyata Swiss juga memiliki varian bahasa Perancis yang berbeda dari negara Perancis. Rupanya ada kosa kata yang sama dengan bahasa Perancis Belgia.

Tak diterima oleh Lycée Français, saya jadi berpisah cukup lama dengan bahasa Perancis. Bahasa tersebut hanya saya gunakan dari waktu ke waktu untuk mengobrol dengan adik saya, di samping bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Saya baru benar – benar menggunakannya lagi pada 2015 setelah membuka dan mengajar kursus bahasa Perancis di lembaga milik saya sendiri di Bogor : OPERA – Obrol Perancis. Berbeda dari banyak lembaga kursus lainnya di Indonesia, OPERA punya keunikan yaitu mengajarkan empat bahasa Perancis sekaligus : bahasa Perancis Perancis, Perancis Belgia, Perancis Swiss dan Perancis Kanada. Saya telah menjadi seorang pengajar yang punya kemampuan 4 bahasa Perancis berbeda. Ini langka di Indonesia !

Dari mana saya bisa bahasa Perancis Kanada ? Saat masih di Belgia, pada tahun 2001 saya sempat liburan bersama keluarga ke Kanada, negara kelahiran saya. Di situ kami sempat ke Provinsi Québec dan saya terkejut mendapati bahasa Perancis di sana beda dari bahasa Perancis Belgia maupun bahasa Perancis Perancis. Kosa kata dan logatnya ada yang tak sama. Itu yang membuat saya kian tahu ternyata bahasa Perancis itu tidak hanya ada bahasa Perancis Perancis. Bahkan setelah saya membaca referensi lebih lanjut, ternyata bahasa Perancis Belgia juga go international sebagaimana bahasa Perancis Perancis. Ini disebabkan Belgia dan Perancis sama – sama menjajah berbagai negara sembari membawa bahasa Perancisnya masing – masing.

Selama menjalani profesi di OPERA sejak 2015, saya sudah memiliki beragam alumni. Murid pertama OPERA sukses tembus beasiswa Universitas Sorbonne, Paris pada 2017. Lalu, ada juga murid yang merupakan diplomat muda Indonesia yang berdinas di KBRI Tunis. Sebelumnya dirinya ditugaskan di KBRI Ottawa, Kanada. Lalu, pada Februari 2019 OPERA memberi pelatihan bahasa Perancis di Pusdiklat Kementerian Luar Negeri. Selain itu, ada juga murid yang lanjut sekolah di Montréal, Québec, Kanada. Ada pula yang kuliah ke Universitas Reims, Perancis. Kini, ada pula yang belajar bahasa Perancis karena akan kuliah mode di Paris. Berkat belajar di OPERA, mereka semua jadi punya kemampuan bicara empat bahasa Perancis berbeda seperti halnya saya.

Tak hanya itu, sebagian dari mereka pun berhasil saya bimbing hingga lulus berbagai level Tes DELF, tes sertifikasi internasional bahasa Perancis semacam TOEFL atau IELTS di bahasa Inggris. DELF adalah singkatan dari Diplôme d’Études en Langue Française (Diploma Studi Bahasa Perancis) dan merupakan tes untuk tingkat pemula hingga menengah. Yang tingkat mahir, tesnya adalah DALF (Diplôme Approfondi en Langue Française (Diploma Mendalam Bahasa Perancis)).

Uniknya, saya berhasil meluluskan sebagian murid saya pada Tes DELF saat saya belum pernah mengambil tes itu sendiri ! Bahkan, alumni OPERA yang lanjut sekolah ke Montréal, Québec, Kanada, memukai penguji DELF level B1 dengan mempraktekkan empat bahasa Perancis sekaligus pada tes speaking : bahasa Perancis Perancis, bahasa Perancis Belgia, bahasa Perancis Swiss dan bahasa Perancis Kanada. Nilai speakingnya pun mendekati sempurna !

Setelah murid pertama saya pergi ke Sorbonne, saya akhirnya mengambil Tes DELF dan DALF selevel demi selevel. Hasilnya, saya meraih prestasi fantastis ! Saya empat kali sukses meraih skor tertinggi DELF dan DALF se-Indonesia ! Bahkan pada DALF level C1, saya menjadi satu – satunya peserta yang lulus dari lokasi ujian di IFI Thamrin (Institut Français d’Indonésie cabang Thamrin, Jakarta Pusat). Tak hanya itu, selama saya mengambil Tes DELF dan DALF, saya berulang kali ditanya belajar bahasa Perancis di mana serta apakah saya murid kursus IFI. Saking terpukaunya para penguji dan sekretariat IFI Thamrin pada saya. Saya pun lantas memperoleh penghargaan Certificat d’Excellence DELF dan DALF dari IFI sebanyak empat kali.

Uniknya, kemampuan bahasa Perancis saya yang mantap diperoleh dari hasil tinggal dan sekolah di Belgia, bukan di Perancis ! Ini menunjukkan bahwa kita bisa jago bahasa Perancis dari negara frankofon manapun di dunia. Kuncinya adalah tekun dan sabar mau belajar semuanya dari nol. Ditambah dengan potensi di bidang bahasa, maka hasil kita bisa mantap. Pengalaman saya memperlihatkan proses yang tidak instan untuk meraih prestasi. Saya sangat bersyukur pernah tinggal di Belgia. Saya juga bangga bisa turut mengharumkan barisan alumni Belgia dengan bidang yang tak lepas dari identitas Belgia. Bahkan lulus kuliah S1 pun topik skripsi saya tentang Belgia. Rasanya saya amat menikmati pengalaman tinggal di sana.

Semoga pengalaman yang saya bagikan bisa menjadi inspirasi dan dorongan semangat bagi teman – teman semua. Semoga kita semua bisa meraih kesuksesan dan berkontribuasi dari bidang kita masing – masing. Sebab kalau saya bisa, mudah – mudahan teman – teman sekalian juga bisa ! Bismillah, bonne chance et bon courage !  

——-

Redaksi menerima artikel atau essay dari anggota Alumni Belgia dalam bentuk gagasan dan opini dengan panjang tulisan minimal 550 kata. Artikel dan foto diri dikirimkan melalui email: alumnibelgie@gmail.com.