Categories
Sosok dan Kiprah

Prof. Dr. Kees Bertens: Pakar Etika Terkemuka Indonesia

Prof. Dr. Kees Bertens tidak lahir di Indonesia, namun kecintaannya pada Indonesia telah membawanya untuk tinggal dan berkarya di Indonesia. Prof. Bertens lahir di Belanda, tepatnya di kota Tilburg, pada 1936. Kees muda menempuh pendidikan Doktor dalam bidang filsafat pada tahun 1968 di Katholieke Universiteit Leuven, Belgia. Selama masa studinya di Belgia, setiap hari minggu selalu memiliki aktivitas membantu paroki atau biara suster di Belgia.Ia juga memiliki pengalaman sebagai Pastoral di Perancis pada saat libur panjang di kota La Courneuve. Pada tahun 1965, ia juga pernah menjadi pemimpin misa di Belanda. Itulah sebabnya ia dijuluki sebagai seorang rohaniawan. Sejak Tahun 1968, Prof. Bertens menjadi seorang rohaniawan Gereja Katholik di Jakarta.

Selain sebagai rohaniawan, saat ini ia juga sesosok tokoh etika Indonesia yang banyak berkecimpung di dunai akademis sebagai ahli filsafat dan teologi. Beberapa pengalaman profesi yang pernah dijalani antara lain yaitu pengajar di Seminari MSC, Belanda selama 2 tahun, Seminari Pineleng selama 11 tahun, STF Driyarkara selama beberapa tahun dan sisanya sebagai dosen di Universitas Katolik Atma Jaya yang merupakan tempat mengajar paling lama yaitu sejak tahun 1983. Di universitas tersebut, Prof. Bertens menjabat sebagai Direktur Pusat Etika pada tahun 1984-1995. Bahkan pada tahun 1990-1998, beliau juga dipercaya sebagai ketua HIDESI (Himpunan Dosen Etika Seluruh Indonesia). 

Pada tahun 2004 – 2009, ia membuka layanan konsultasi eksternal pada Komisi Nasional Bioetika dan pada tahun 2003 hingga saat ini, beliau melayani konsultasi eksternal pada Komisi Nasional Etika Riset Kesehatan. Hingga saat ini, bberapa karya buku telah diterbitkan, diantaranya yaitu  “Etika” (1993); “Membahas Kasus Etika Kedokteran” (1996); ”Pengantar Etika Bisnis” (2000); ”Perspektif Etika” (2001); ”Aborsi sebagai Masalah Etika” (2002); ”Keprihatinan Moral” (2003); ”Sketsa-sketsa Moral” (2004); ”Metode belajar untuk Mahasiswa” (2005); Psikoanalisis Sigmund Freud” (2006); “Perspektif Etika Baru” (2009).

—-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *