Categories
Artikel

Buka Buku, Buka Mata, Buka Dunia

Oleh: Birgitta Sandhi Hendrowati Nugrohoningtyas (Alumni KU Leuven, Belgia)

Tuhan memang Maha Pengasih. Tahun 2013, saya berhasil mendapatkan beasiswa Erasmus Mundus untuk program European Master of Food Science, Technology and Nutrition. Beasiswa Erasmus Mundus adalah beasiswa yang didanai oleh Komisi Eropa. Sedangkan program yang saya ambil ini adalah konsorsium dari 4 universitas berbeda: KU Leuven di Belgia, Dublin Institute of Technology di Irlandia, Hochschule Anhalt (the Anhalt University of Applied Sciences) di Jerman dan Universidade Catolica Portuguesa di Portugal. Dalam program ini saya harus menyelesaikan modul wajib dan memilih modul pilihan di 4 universitas tersebut. Rasanya masih tidak percaya impian saya untuk belajar sambil jalan-jalan tercapai karena saya harus bersekolah dan tinggal di negara-negara tersebut. Saya juga mendapat kesempatan untuk magang di FAO1 di Italia. Jadi lengkap sudah pengalaman saya menjelajah Eropa dari utara sampai ke selatan.

Enak ya bisa sekolah dan magang di 4 negara berbeda! Komentar itu sering saya dengar. Andai mereka tahu bahwa semua itu ada tantangan dan keuntungannya. Tantangan yang paling bisa dilihat kasat mata adalah mengangkut satu tas besar seberat 27 kilo, satu tas kabin dan satu backpack berisi laptop ke mana pun saya pindah. Jangan dibayangkan di Eropa ada kuli angkut. Semua harus dibawa sendiri. Saya juga harus jalan kaki dan gonta-ganti naik bis dan kereta. Tantangan kedua, dan yang paling membuat pusing, adalah mematuhi peraturan di 4 negara berbeda. Peraturan tentang visa, izin tinggal, dan pajak harus dipahami dan dipatuhi. Tantangan lain yang tidak kalah pentingnya adalah menemukan tempat tinggal, kesulitan komunikasi dengan penduduk lokal, keribetan packing dan unpacking, serta mencari tahu bagaimana cara yang paling efisien dan murah untuk pindah dari satu negara ke negara lain. Tapi saya mendapatkan keuntungan yaitu pengalaman hidup di 4 negara berbeda yang membuka mata saya.

Sebagai mahasiswa nomaden, saat orientasi merupakan saat yang paling menarik untuk saya. Setiap universitas biasanya memberikan gambaran secara umum tentang sejarah negara, sejarah kota dan jika beruntung dilanjutkan dengan wisata keliling kota.  Masa orientasi yang paling berkesan adalah yang diberikan oleh KU Leuven. Teman-teman satu program dikumpulkan di ruang kelas dan diberi penjelasan tentang Belgia. Kami juga diminta untuk menceritakan tentang negara masing-masing. Masyarakat Belgia cukup mengenal Indonesia karena pengetahuan tentang Indonesia diberikan sebagai bagian dari pelajaran sejarah mereka. Belgia pernah menjadi bagian dari Belanda sebelum akhirnya memisahkan diri saat Revolusi Belgia. Kami lalu diajak keliling kota dengan berjalan kaki sambil diberi penjelasan mendetail tentang bangunan yang bersejarah. Siapa sangka kami lalu diajak ke restoran untuk makan malam. Yeeyy

Proses adaptasi dengan cuaca berjalan dengan cukup baik karena saya tiba di Belgia pada akhir bulan Agustus. Saat itu udara masih cukup hangat. Selama saya berpindah-pindah negara, saya belum pernah merasakan cuaca yang terlalu ekstrem. Salah seorang teman memberi tips: kalau belum musim dingin jangan pakai baju tebal-tebal. Usahakan agar badan beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Kalau musim gugur sudah pakai baju tebal-tebal, nanti saat musim dingin mau ditambah pakai baju apa lagi? Tips ini terbukti berguna untuk survive saat musim dingin.

Mengecek ramalan cuaca saat malam hari untuk menentukan pakaian dan peralatan yang harus dibawa merupakan wajib hukumnya. Cuaca dan suhu udara, terutama di Belgia dan Jerman, bisa sangat berbeda dari hari ke hari. Kemarin sejuk, hari ini bisa menjadi dingin. Namun kebiasaan ini tidak berlaku di Irlandia. Tidak perlu repot-repot mengecek ramalan cuaca di Irlandia karena hampir setiap hari hujan disertai angin. Tidak ada gunanya juga membawa payung karena pasti akan tertiup angin. Jadi jas hujan adalah peralatan wajib. Irlandia juga adalah negara yang cuacanya paling aneh menurut saya. Dalam satu hari bisa ada tiga cuaca atau lebih, tanpa pola yang jelas: cerah-berawan-hujan disertai angin-salju-cerah-berawan-salju-hujan disertai angin lagi.

Bergaul dengan orang-orang dari 4 negara sangat memberi warna berbeda pada kehidapan sekolah saya. Orang Belgia cenderung introvert dan menjaga jarak. Orang Irlandia lebih terbuka dan ramah. Walaupun pertama kali saat mereka menyapa ”How’s it going?” saya menjawabnya dengan detail dan jujur. Berasumsi bahwa mereka ingin mengetahui kabar saya yang sebenarnya, karena pertanyaan itu ditanyakan setiap hari. Baru agak lama saya tersadar bahwa sapaan itu cukup dijawab dengan “Fine, thank you!”. Negara Jerman yang terkenal dengan efisiensinya tercemin dari penduduknya. Orang Jerman sangat tepat waktu, menghargai privacy, taat mengikuti peraturan dan cukup kaku menurut pendapat saya. Hanya orang Italia yang karakternya mirip dengan orang Indonesia. Sangat suka bercerita, ramah, perhatian, namun juga mudah marah, tidak tepat waktu, dan tidak tertib.

Namun diantara semua itu, culture shock merupakan hal yang sangat membuka mata saya, bahwa kebiasaan yang dianggap tidak wajar di suatu negara dapat menjadi sebuah kebiasaan yang wajar di suatu negara. Saya akan memberi contoh dengan kebiasaan saat bertemu dengan hugging (peluk) dan check-kissing (cium pipi). Saya dapat menerima kebiasaan peluk. Kebiasaan ini menunjukkan kedekatan dengan seseorang. Pelukan juga secara ilmiah dikatakan dapat menyembuhkan kesepian, memperbaiki mood dan menciptakan kegembiraan karena meningkatan produksi oksitosin dan serotonin. Bahkan saya pernah menemukan kasus ekstrem seseorang membawa papan bertuliskan free hugging di sebuah kota di Jerman. Mungkin pria ini kesepian! Hahaha!

Kebiasaan cium pipi lah yang memberikan tantangan tersendiri untuk saya. Saya harus mengingat jumlah yang tepat untuk negara yang berbeda: Belgia tiga kali, Jerman satu kali, dan Italia dua kali. Kadang saya juga mengalami saat memalukan dengan memberikan pipi yang salah, kanan atau kiri dulu. Penduduk Eropa biasanya menerima jabat tangan, karena sebagai orang Asia kita tidak terbiasa dengan pelukan atau cium pipi. Namun semakin kita dekat secara pribadi dengan mereka, mereka mengharapkan kita untuk menerapkan kebiasaan tersebut.

Masih banyak culture shock yang membuat saya sebagai mahasiswa Indonesia harus beradaptasi. Seperti hambatan bahasa lokal, penggunaan tisu toilet alih-alih air, minum minuman alkohol, partying, makanan halal, table manner (sampai sekarang saya masih kesulitan makan nasi dengan menggunakan pisau dan garpu), cara berpakaian, mekanisme siapa yang membayar saat makan atau minum bersama, pemberian tip kepada pramusaji atau barista, mengembalikan gelas dan piring setelah makan, penggunaan jalan saat bersepeda, bagaimana penduduk Eropa biasanya sangat straightforward dan direct dalam mengekspresikan perasaannya dibandingkan orang Asia, dan masih banyak hal lainnya. Pepatah mengatakan di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Namun kita tetap harus pandai-pandai memilih, kebiasaan apa saja yang sesuai dengan norma negara asal kita.

Menikmati Perpustakaan di Belgia

Tidak semua kebiasaan kebiasaan orang Eropa kurang baik. Justru banyak sekali kebiasaan baik yang dapat dicontoh seperti tepat waktu, teratur, budaya antri dan tertib, pemisahan sampah, etos kerja yang efisien dan lain sebagainya. Namun pada kesempatan kali ini saya ingin mengangkat tentang budaya membaca. Belgia merupakan negara Eropa yang paling lama saya singgahi sehingga saya ingin menjadikan negara ini sebagai tolak ukur.

Pertama kali menginjakkan kaki di perpustakaan umum (dalam bahasa Belanda disebut bibliotheek) di kota tercinta Ghent membuat saya berangan-angan seandainya kota-kota di Indonesia memiliki perpustakaan seperti ini. Sistem di perpustakaan dibuat untuk memudahkan anggota dan meningkatkan minat baca. Ghent memiliki 18 perpustakaan umum. Untuk mendaftar sebagai anggota perpustakaan cukup membawa resident card karena sistem komputerisasi di Belgia sudah terintegrasi dengan baik. Petugas perpustakaan akan memberikan kartu keanggotaan perpustakaan. Dengan memiliki kartu tersebut, anggota dapat mempergunakan fasilitas komputer di perpustakaan, wi-fi gratis, scan gratis, print, fotokopi dan tentu saja meminjam koleksi di perpustakaan.

Perpustakaan Ghent dibagi menjadi area dewasa dan anak-anak. Perpustakaan memiliki berbagai koleksi buku fiksi dan nonfiksi. Walaupun sebagian besar berbahasa Belanda, terdapat koleksi yang cukup banyak untuk buku berbahasa Inggris, Perancis dan bahasa lain. Terdapat pula koleksi majalah, komik, DVD, CD, CD-ROM, audio book dalam CD, koleksi musik dan film.

Berapa banyak koleksi yang dapat dipinjam oleh setiap pemegang kartu? Maksimum 10 buku, 10 komik, 10 CD, 10 majalah dengan maksimum total peminjaman 30 buah. Sedangkan untuk koleksi yang lain maksimum empat DVD, empat sprinter, empat course dengan maksimum total peminjaman 16 buah. Koleksi dapat dicari sebelumnya secara online dari luar perpustakaan. Proses peminjaman dilakukan dengan scan mandiri koleksi yang akan dipinjam. Lama peminjaman empat minggu dan bisa diperpanjang. Jika ingin mengembalikan koleksi dapat datang ke perpustakaan selama jam buka, atau meletakkan koleksi pada semacam kotak surat setelah perpustakaan tutup.

Bagi saya, fasilitas yang sangat membantu adalah platform Mijn Bibliotheek (Perpustakaan Saya). Platform ini dapat digunakan untuk mencari koleksi dan memesannya sebelum peminjaman, membaca semua artikel di koran-koran Flemish, memperpanjang waktu peminjaman tanpa harus datang ke perpustakaan, dan fasilitas Mijn-lijsten yang memuat daftar koleksi favorit atau koleksi yang ingin kita baca. Platform ini juga terhubung dengan e-mail pribadi kita yang memberikan e-mail notifikasi untuk daftar koleksi yang kita pinjam, peringatan jika mendekati akhir waktu peminjaman dan detail denda. Untuk denda, pembayaran dilakukan menggunakan mesin khusus yang hanya dapat menggunakan kartu (tidak dapat menggunakan uang tunai). Saya juga dapat mendownload e-book gratis yang tentunya sangat menggiurkan untuk mahasiswa seperti saya.

Banyak masyarakat umum, pelajar dan mahasiswa Belgia yang menghabiskan waktu di perpustakaan umum. Selain untuk membaca, pelajar dan mahasiswa juga menggunakan perpustakaan untuk belajar dan mengerjakan tugas. Kondisi perpustakaan sangat tenang dan membantu kita untuk fokus berkerja. Orang hanya berbicara seperlunya saja dan dengan volume suara yang rendah. Orang Belgia juga sangat suka membaca di luar perpustakaan. Merupakan pemandangan yang lazim melihat mereka membaca di kereta, kafe, maupun sambil berjemur di musim panas.

Nah setelah mengetahui kemudahan-kemudahan di perpustakaan yang diberikan oleh pemerintah Belgia untuk mendorong minat baca masyarakatnya, izinkan saya untuk sedikit berbagi tentang manfaat yang dirasakan dengan banyak membaca.

Sebagai seorang mahasiswa tentu budaya membaca sangat diperlukan. Pertama kali diperlukan untuk mendapatkan universitas dan beasiswa yang diperlukan. Keunggulan satu universitas dibandingkan dengan universitas lain dan manfaat yang diterima dari beasiswa satu dibandingkan dengan yang lain perlu dipertimbangkan. Telah banyak buku-buku yang diterbitkan oleh para alumni memberikan gambaran bagaimana tips dan strategi untuk mendapatkan universitas dan beasiswa.

Setelah diterima di universitas dan mendapatkan beasiswa tentu saja kita perlu mencari tahu informasi tentang negara tempat universitas itu. Dari mulai untuk mendapatkan visa, ijin tinggal, sejarah, jumlah penduduk, etika, gaya hidup, cuaca, makanan, minuman, dan kebiasaan. Informasi tersebut dapat digunakan sebagai bahan pembicaraan saat hangout dengan teman. Tentu saja mereka juga tertarik untuk mendengar cerita dari Indonesia. Jadi pastikan pengetahuan tentang Indonesia juga sama luasnya.

Kehidupan mahasiswa pasti tidak jauh dari membaca buku-buku teks yang tebal dan jurnal-jurnal. Apalagi saat penentukan topik penelitian dan saat tesis, jika tidak suka membaca rasanya menjadi beban yang berat sekali. Lebih jauh terdapat keuntungan lain dengan menjadi mahasiswa di Eropa. Dengan menjadi mahasiswa di Eropa (baca: negara-negara Schengen), kita dapat travelling ke negara-negara Schengen tanpa visa. Memperluas cakrawala dengan travelling ke tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi adalah salah satu aktivitas yang membuat kita bagian dari komunitas yang terdidik atau beraksara.

Saat magang di FAO1,saya mengobservasi bahwa kebiasaan membaca ini sangat membantu.  Banyak kolega yang harus bekerja dengan membaca banyak sekali buku, jurnal, web page dan dokumen. Semakin banyak membaca, kecepatan dalam membaca dan mengolah informasi yang diperoleh semakin cepat. Selain itu saya juga mengamati bahwa obrolan-obrolan tidak hanya melulu mengenai pekerjaan. Sebagai lembaga yang berisi orang-orang dari seluruh dunia, pembicaraan dan diskusi mengenai politik, ekonomi, hubungan antar negara, berita-berita masa kini, dan sejarah terjadi setiap saat. Jika tidak punya pengetahuan dengan banyak membaca tentang topik yang dibicarakan, dijamin hanya menjadi pendengar setia dan menjadi kuper. Dengan banyak membaca, mereka dapat memberikan komentar dan pendapat terhadap isu-isu sensitif. 

Maukah Indonesia Membaca Buku?

Keberaksaraan atau literacy umumnya dipandang sebagai kemampuan membaca dan menulis. Namun secara bersamaan UNESCO2 menyatakan bahwa konsep keberaksaraan terus berkembang secara komplek dan dinamis sesuai perubahan jaman. Untuk dunia industry, penekanan diberikan pada kecakapan keberaksaraan yang sesuai untuk ekonomi global. Sebagai contoh OECD3 dalam Programme for the International Assessment of Adult Competencies (PIAAC) 2016 mendefinisikan keberaksaraan sebagai “kemampuan untuk mengerti, mengevaluasi, menggunakan dan berinteraksi dengan teks-teks tertulis untuk berpartisipasi dalam masyarakat, mencapai sasaran-sasaran pribadi, dan mengembangkan pengetahuan dan potensi pribadi”. Jadi konteks keberaksaraan juga tidak hanya terfokus pada pribadi melainkan telah meluas menjadi lingkungan dan masyarakat yang beraksara.  

Berbagai usaha untuk memberantas buta aksara dan meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia telah dilakukan seperti melalui program Pemberantasan Buta Aksara, program kejar paket A, B dan C, program Wajib Belajar 9 tahun yang dilanjutkan dengan program Wajib Belajar 12 tahun, program Bantuan Operasional Sekolah (BOS), program Gerakan Nasional Orang Tua Asuh (GNOTA), sertifikasi guru dan dosen, akreditasi sekolah, dan berbagai program beasiswa. Banyaknya program ini membuat pemberantasan buta aksara di Indonesia sukses. Pada tahun 1945, hanya 3% dari populasi Indonesia yang mengenyam pendidikan formal. Sedangkan di tahun 2015, menurut data UNESCO2, jumlah buta aksara usia 15 tahun keatas sebesar 8 juta jiwa (4,56%) dan berhasil mencapai target Dakar World Education Forum dalam program Education for All (EFA) yaitu menjadikan jumlah buta aksara orang dewasa menjadi setengah di tahun 2015.

Jangan lupa walaupun syarat dasar keberaksaraan adalah kemampuan membaca, yang melibatkan keakuratan dan kecepatan membaca, ternyata itu saja tidak cukup untuk bersaing di dunia globalisasi. Harus disertai dengan kemauan atau minat membaca. Nah bagaimana dengan kondisi di Indonesia? Jika dibandingkan dengan Belgia, kondisi minat baca bangsa Indonesia jauh memprihatinkan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Central Connecticut State University tahun 2016, Belgia menempati rangking 18 sedangkan Indonesia menempati rangking 60 dari 61 negara. Lebih jauh menurut UNESCO2 dari 1000 orang Indonesia hanya ada 1 orang yang mau membaca buku dengan serius.

Mark Twain mengatakan orang yang tidak mau membaca tidak memiliki keuntungan dibandingkan dengan orang yang tidak bisa membaca. Oleh karena itu, pemerintah akhir-akhir ini sangat berambisi untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Berbagai program dibentuk seperti wajib membaca 15 menit sebelum waktu pembelajaran dimulai (khususnya bagi siswa SD, SMP atau SMA), Gerakan Indonesia Membaca, Gerakan Cinta Buku, raja dan ratu buku di sekolah serta penunjukan Najwa Shihab sebagai Duta Baca Indonesia. Usaha untuk mempermudah akses masyarakat terhadap buku juga digalakkan seperti pembangunan perpustakaan daerah, pengadaan kampung literasi, dan perpustakaan keliling. Lembaga-lembaga profit dan non profit juga turut membantu meningkatkan minat baca di masyarakat dengan mengadakan lomba membaca, book fair, membangun pusat pembelajaran masyarakat berbasis perpustakaan dan mengadakan gerakan donasi buku. Bahkan cukup banyak relawan-relawan daerah yang berusaha untuk mendekatkan buku kepada anak-anak di pelosok.

Pertanyaannya apakah itu cukup untuk membentuk budaya membaca di masyarakat? Tentu belum cukup. Peran keluarga dalam membentuk kebiasaan membaca juga selayaknya diperkuat. Jika anak tidak menyukai membaca ketika muda, kecil kemungkinan mereka menyukai membaca saat dewasa. Keluarga menjadi tempat pertama dan strategis dalam mengenalkan bahwa membaca itu menyenangkan dan membentuk karakter untuk mencintai buku. Kewajiban pemerintahlah untuk mengedukasi orang tua bahwa kebiasaan membaca itu sangat penting untuk masa depan anak. Langkah selanjutnya adalah mengubah kebiasaan di keluarga seperti mengganti dongeng sebelum tidur menjadi membacakan buku sebelum tidur, kebiasaan membaca bersama anak, memberi hadiah buku, dan bagaimana memotivasi anak agar tetap membaca saat tidak ada tugas dari sekolah. Orang tua juga harus menjadi model dengan banyak membaca karena anak-anak sangat suka meniru.

Peran masyarakat dan lingkungan dalam membentuk budaya membaca juga sangat besar. Sungguh cara pandang yang sangat tidak mendidik di Indonesia dengan mengatakan orang yang suka membaca itu tidak gaul, aneh, dan kuper. Kita juga mungkin berpendapat bahwa dengan kemudahan akses internet maka minat baca akan meningkat. Tetapi apa yang masyarakat baca di internet? Facebook, Twitter, Instagram tentu berisi kata-kata, tetapi apakah itu memberi nilai tambah pada pengetahuan kita?

Indonesia harus siap dengan tantangan globalisasi yang semakin kompleks. Saya, anda, dan kita semua adalah agen perubahan untuk budaya membaca. Pengaruhi orang lain untuk membaca dan tunjukkan bahwa apa yang dibaca itu penting. Stephen King mengatakan “Jika kamu tidak memiliki waktu untuk membaca, kamu tidak punya waktu (atau modal) untuk menulis. Sesederhana itu.” Mari bersama kita bisa untuk Indonesia yang lebih baik!

—————-

Redaksi menerima artikel atau essay dari anggota Alumni Belgia dalam bentuk gagasan dan opini dengan panjang tulisan minimal 550 kata. Artikel dan foto diri dikirimkan melalui email: alumnibelgie@gmail.com.

*Artikel ini merupakan bagian dari tulisan penulis dalam buku Antimainstream Scholarship Destination: Belajar dari Jantung Benua Eropa yang diterbitkan oleh PPI Belgia dan Penerbit Lintas Nalar dengan dukungan penuh dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Brussel dan para alumni.

Leave a Reply

Your email address will not be published.