Categories
Artikel

Kuliah dan Berorganisasi, Kenapa Tidak?

Oleh: Dr. M. Nanang Suprayogi (Dosen Psikologi Pendidikan Binus University, Alumni Ghent University, Belgia)

Penantian sekian tahun akhirnya terwujud juga. Setelah berjuang keras dan pantang menyerah, akhirnya saya dapat kuliah S3 setelah mendapatkan beasiswa dari Uni Eropa pada tahun 2012. Tempat studi saya, Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan Ghent University, termasuk dalam jajaran universitas terbaik di dunia menurut beberapa pemeringkatan universitas level internasional.

Kesempatan studi di luar negeri saya manfaatkan sebaik mungkin. Saya tidak hanya belajar bidang akademis saja, namun juga mempelajari budaya dan kemajuan negara-negara Eropa. Saya juga aktif dalam organisasi mahasiswa. Pengalaman berorganisasi semasa S1 itu pula yang membawa saya untuk juga aktif dalam organisasi Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Belgia. Saya terpilih sebagai Ketua PPI Belgia periode perdana tahun 2014-2015.

Beberapa kawan sering mempertentangkan antara mahasiswa akademis dan mahasiswa aktivis. Bagaimana membagi waktu untuk belajar sekaligus berorganisasi? Bukankah tugas kuliah sudah cukup banyak, mengapa pula mesti menambah lagi tugas dengan berorganisasi? Apakah mahasiswa punya waktu untuk istirahat? Itu deretan pertanyaan yang kerap ditanyakan oleh mereka.

Tugas kuliah memang banyak, namun tugas organisasi juga menantang, dan saya punya konsep istirahat yang unik. Istirahat bagi saya adalah bergantinya satu pekerjaan ke pekerjaan yang lain. Jadi ketika sudah merasa lelah dengan membaca buku dan butuh istirahat, maka saya berganti dari membaca buku menjadi ngobrol atau berdiskusi bersama teman-teman. Bagi saya ngobrol yang paling asyik dan produktif tentu dalam bingkai organisasi. Jadi sesungguhnya berorganisasi itu menjadi istirahat saya setelah kuliah., Sebaliknya, kuliah menjadi istirahat saya setelah berorganisasi. Jadi, dua-duanya menjadi penyemangat kerja. Sebagai mahasiswa akademis sekaligus aktivis, tentu saya harus pandai dalam membagi waktu dan konsentrasi. Agar keduanya dapat berjalan pararel, saling melengkapi.

Ada ungkapan bijak yang mengatakan “Kebenaran yang tak terorganisasi akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisasi.” Ungkapan tersebut sering saya lihat faktanya dalam kenyataan. Kebenaran ternyata dapat dikalahkan, karena kebenaran tersebut tidak diatur secara rapi. Di sisi lain, kebatilan disusun sedemikian tertib dan rapi, sehingga tampak lebih meyakinkan, dan akhirnya dapat mengalahkan kebenaran. Sungguh tragis. Itulah yang makin menguatkan saya untuk terlibat aktif dalam dunia organisasi.

PPI Belgia saat itu memang agak unik. Sudah sekian tahun lamanya PPI Belgia belum memiliki kepengurusan. Kepengurusan yang ada adalah PPI di masing-masing kota, seperti PPI Gent, PPI Leuven, PPI Brussel, PPI Antwerp, PPI Hasselt. Sementara PPI Belgia yang mewadahi PPI seluruh Belgia sendiri belum ada.

Kevakuman tersebut menjadi hambatan untuk berkoordinasi dengan PPI negara-negara lain dalam wadah PPI Dunia. Seperti kejadian pada sekitar bulan Mei 2013, ada undangan kepada PPI Belgia untuk mengikuti Simposium PPI wilayah Eropa dan Amerika di Turki. Saat itu pihak KBRI Brussel kesulitan menentukan kepada siapa undangan tersebut diberikan, karena PPI Belgia belum ada pengurusnya. Akhirnya kegiatan simposium tersebut belum bisa dihadiri oleh perwakilan dari PPI Belgia. Tidak hanya itu, untuk koordinasi internal sesama PPI kota juga kurang efektif, karena tidak ada yang mengkoordinasikannya.

Untuk mengatasi hal tersebut, bertepatan dengan kegiatan Pemilu tahun 2014, semangat teman-teman mahasiswa untuk memiliki kepengurusan PPI Belgia semakin menguat. Akhirnya pada Bulan April 2014 dibentuklah rapat pendahuluan di KBRI, yang kemudian disepakati untuk mendirikan organisasi PPI Belgia. Rapat tersebut kemudian diikuti dengan rapat berikutnya pada bulan Juli 2014,untuk menentukan Ketua PPI Belgia. Peserta rapat kemudian secara aklamasi memilih saya sebagai Ketua PPI Belgia perdana masa bakti 2014-2015. Acara pelantikan pengurus perdana PPI Belgia dilaksanakan bersamaan dengan acara Peringatan Kemerdekaan RI yang ke-70 di KBRI Brussel. Pelantikan dilakukan oleh Duta Besar RI untuk Belgia, Luksemburg dan Uni Eropa, Bapak Arief Havas Oegroseno (Gambar 1).

Gambar 1. Pengurus PPI Belgia Periode Perdana berfoto bersama Bapak Dubes RI untuk Belgia, Arief Havas Oegroseno, dan para staf KBRI sesaat setelah pelantikan.

Aktif di dunia organisasi tentu banyak memberikan pengalaman berharga, seperti dapat memperluas jaringan akademik dan profesional, sarana belajar melakukan lobi dan diplomasi, wadah untuk mempraktekkan teori-teori yang didapatkan di kampus. Saya belajar berkomitmen dalam menyusun program kerja serta menjalankannya dan tentu juga belajar bagaimana menghadapi gesekan-gesekan sesama para aktivis mahasiswa dalam rangka menyuarakan aspirasi mahasiswa demi negeri tercinta.

Misalnya saat saya mengikuti Simposium Internasional PPI Kawasan Amerika dan Eropa pada tanggal 6-8 Mei 2015, di Kota Moskow, Rusia (Gambar 2). Saat itu saya bertindak sebagai presidium sidang. Beberapa peserta sidang saling beradu argumen, meyakinkan pendapatnya, dengan suara yang kian meninggi, menyebabkan suasana sidang memanas.

“Braak…!” salah satu peserta sidang PPI melemparkan beberapa buku dengan penuh emosi ke meja. Suara lemparan buku yang cukup kencang tersebut membuat suasana sidang menjadi tegang. Para peserta sidang yang terdiri dari perwakilan mahasiswa Indonesia dari berbagai negara-negara di Amerika dan Eropa saling pandang dengan penuh kebingungan. Saya sebagai presidium sidang kemudian menenangkan seluruh peserta dan mengendalikan jalannya sidang agar tetap kondusif.

Gambar 2. Simposium PPI Kawasan Amerika Eropa, di Moskow Rusia

Perdebatan itu terjadi saat para peserta berdiskusi tentang persiapan Indonesia menghadapi ASEAN Community, salah satunya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), yang akan diberlakukan pada akhir tahun 2015. Persiapan menghadapi ASEAN Community memang menjadi tema utama pada acara tersebut.

Acara sidang berlangsung sangat seru, bahkan molor hingga melebihi batas waktu. Rapat maraton dilakukan sejak pukul 09.00, hingga tengah malam. Perdebatan yang seru di meja sidang pun akhirnya menemukan kesepakatan. Simposium itu menghasilkan rekomendasi yang kemudian disampaikan ke Pemerintah RI yang bernama “Manifesto Moskow”.

Rekomendasi tersebut berisi rekomendasi yang secara umum menegaskan concern mahasiswa terhadap kesiapan Indonesia memasuki Komunitas ASEAN. Beberapa rekomendasi dihasilkan, diantaranya, mahasiswa meminta agar pemerintah lebih memajukan good governance, menghilangkan ego sektoral, meningkatkan mutu SDM melalui reformasi pendidikan, serta mempercepat pembangunan infrastruktur. Rekomendasi inilah yang merupakan sumbangan ide peserta simposium kepada negara Indonesia tercinta.

Ada lagi pengalaman saat mengikuti acara Simposium International PPI Dunia, tanggal 20-22 September 2014 di Tokyo, Jepang. Acara tersebut dihadiri oleh para perwakilan pelajar Indonesia dari 23 negara. Acara tersebut mengangkat tema “Initiating Contribution of Indonesian Young Generation to the World”.

Gambar 3. Simposium PPI Dunia, di Tokyo, Jepang

Pada acara tersebut diselenggarakan berbagai diskusi dengan pembicara-pembicara yang kompeten dalam berbagai bidang, dengan melibatkan pembicara dari unsur pemerintah, perbankan, penelti senior Indonesia yang bekerja di Jepang, dan entrepreneur. Diskusi berlangsung cukup menarik karena membahas aplikasi ilmu pengetahuan dan penerapannya di Indonesia demi kemajuan bangsa. Diskusi juga membahas tentang prestasi anak bangsa dalam kancah penelitian internasional. Setelah diskusi, acara dilanjutkan dengan Kongres PPI Dunia. Salah satu hasil kongresnya adalah menyepakati Pernyataan Sikap PPI Dunia atas permasalahan beasiswa DIKTI yang saat itu sedang bermasalah.

Pada saat itu, mahasiswa menyoroti pola pengelolaan anggaran dan keuangan yang dilakukan oleh DIKTI, seperti keterlambatan pembayaran tuition fee dan living allowance, soal masa studi dan prosedur perpanjangannya, tidak ada upaya proaktif dari DIKTI untuk menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi di luar negeri, dan hambatan komunikasi antara karyasiswa DIKTI dengan DIKTI. Pernyataan tersebut ditandatangani oleh Koordinator PPI Dunia dan Ketua Perhimpunan Karyasiswa Dikti Luar Negeri (PKDLN). Alhamdulillah, DIKTI telah melakukan perbaikan menyeluruh terhadap pengelolaan beasiswanya. Setidaknya, tidak ada lagi cerita keterlambatan pencairan beasiswa bagi karyasiswa DIKTI di Belgia sejak Tahun 2015. Semoga kebaikan ini dapat dipertahankan dan bahkan ditingkatkan dari waktu ke waktu.
Demikian, ibarat seekor burung merpati, setelah terbang jauh pergi, pada akhirnya akan kembali pulang ke peraduannya. Demikian juga dengan saya, setelah menimba ilmu jauh melintasi lautan dan benua, pengalaman itu saya kembalikan lagi ke negeri tercinta Indonesia untuk turut serta dalam berkontirbusi membangun negara.

—————-

Redaksi menerima artikel atau essay dari anggota Alumni Belgia dalam bentuk gagasan dan opini dengan panjang tulisan minimal 550 kata. Artikel dan foto diri dikirimkan melalui email: alumnibelgie@gmail.com.

*Artikel ini merupakan bagian dari tulisan penulis dalam buku Antimainstream Scholarship Destination: Belajar dari Jantung Benua Eropa yang diterbitkan oleh PPI Belgia dan Penerbit Lintas Nalar dengan dukungan penuh dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Brussel dan para alumni.


Leave a Reply

Your email address will not be published.