Categories
Artikel

Ghent: Akar tradisi dan Pendidikan Tekstil Eropa

Oleh: Ida Nuramdhani Ph.D (Dosen dan Peneliti pada Politeknik STTT Bandung Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, Alumni Ghent University Belgia)

Tekstil. Mendengar kata tersebut, orang mungkin lebih sering mengidentikkannya dengan buruh pabrik, tukang tenun, tukang celup, tukang jahit, dan sejenisnya. Biarpun saya belum pernah melakukan riset terstruktur untuk membuktikan pernyataan tersebut, tapi paling tidak, seperti itulah asosiasi dalam pikiran saya di masa kecil. Saat itu saya bahkan tidak pernah membayangkan bila pada akhirnya masa depan saya bersentuhan dengan dunia tekstil.

Teknologi tekstil bukan menjadi bidang yang populer dalam cakrawala pengetahuan kebanyakan masyarakat di Indonesia. Padahal, bila dilihat dari aspek signifikannya, tekstil berkaitan langsung dengan satu dari tiga kebutuhan primer manusia. Artinya, sepanjang peradaban hidup manusia masih berjalan, maka sepanjang itu pula tekstil harus dan akan tetap eksis. Maka, perkembangan ilmu dan teknologinya pun akan mengiringi tingkat tuntutan akan kebutuhannya. Sebagai contoh, di masa lalu manusia merasa cukup puas berpakaian dengan kain tanpa warna, namun seiring perkembangan zaman, teknologi pewarnaan dan pewarna tekstil turut berkembang, mulai dari hanya satu dua warna sampai mampu membuat semua jenis warna, bahkan hingga warna yang memiliki efek kamuflase atau tidak terdeteksi sinar infra merah untuk bahan tekstil militer pun sudah dapat dibuat.

Kriteria kualitas bahan yang digunakan juga terus berkembang, dari mulai yang mendasar seperti sifat tahan kusut, tahan luntur, tahan api, tahan air, dan seterusnya, hingga yang lebih bersifat fungsional dan fancy seperti anti bakteri, anti sinar UV, anti bau, hingga yang memiliki sifat sebagai sensor, yang di antaranya dikelompokkan dalam bidang tersendiri yang disebut smart atau intelliGhent textiles. Uraian singkat dan pastinya tidak komprehensif di atas, sebetulnya hanya untuk menggambarkan bahwa di dunia luar, ilmu dan teknologi tekstil berkembang cukup pesat dan menjanjikan. Secara teknologi, tekstil bahkan telah mulai dikembangkan pula ke area non-sandang, seperti bidang otomotif, medis, dan yang disebut tekstil maju (advanced textiles) lainnya. Namun, mengapa area teknologi maju kelihatannya belum cukup berkembang di Indonesia, baik dalam level pendidikan, penelitian, maupun industri? Sebuah pertanyaan retoris yang kadang memang sangat sulit untuk dijawab.

Kembali pada cerita tentang akar industri tekstil di Belgia, sejarah mencatat bahwa tekstil merupakan salah satu industri prioritas di Belgia sejak masa abad pertengahan. Hingga sekitar abad ke-19, kota Ghent menjadi pusat industri wol, serta produksi tekstil dan pakaian yang paling diperhitungkan di Eropa. Dengan lokasi yang merupakan pertemuan dua sungai yang menghubungkan antar kota di hampir seluruh daratan Eropa serta dekat ke pelabuhan, aktivitas perdagangan pun semakin terdorong dan membawa kemajuan pesat bagi negara Belgia sejak revolusi industri terjadi. Saat itu, industri mesin pertenunan modern pun pertama kali diperkenalkan di Ghent. Bahkan, sejak wilayah Ghent dikuasai pemerintah kerajaan Belanda, hubungan perdagangan dengan Indonesia yang saat itu dikenal dengan nama Hindia Belanda yang juga berada di bawah kekuasaan kolonial kala itu, sempat terbangun sangat baik.

Saat Universiteit Gent didirikan, teknologi tekstil termasuk salah satu program studi unggulan dan yang cukup kuat. Berbagai pusat penelitian dan inovasi tekstil didirikan, terutama untuk mendukung kemajuan industri saat itu. Hingga sekarang, di Belgia, khususnya di Ghent, pendidikan dan penelitian di bidang tekstil masih terus berlanjut dan dikembangkan. Beberapa industri mesin tekstil Belgia masih cukup kuat, meskipun aktivitas industri proses tekstil bisa dikatakan sudah tidak ada lagi. Pabrik tekstil konvensional yang terakhir di kota Ghent ditutup pada sekitar akhir 90-an. Dalam konteks perkembangan ilmu dan teknologi tekstil, istilah industri tekstil konvensional identik dengan industri tekstil sandang yang menjalankan proses pengolahan serat hingga menjadi kain yang digunakan untuk proses produksi garmen, melalui proses-proses seperti pemintalan, pertenunan, pencelupan, pencapan, penyempurnaan, termasuk proses-proses khusus lainnya. Industri tekstil Belgia saat ini diarahkan pada area tekstil maju yang tidak memerlukan lahan pabrik sangat besar, jumlah pekerja yang banyak, dan juga proses produksi yang menghasilkan limbah buangan yang berisiko terhadap lingkungan. Hal itu pula yang terjadi di banyak negara maju lainnya.

Dengan fakta bahwa pusat industri tekstil konvensional saat ini bergeser ke negara-negara di Asia termasuk Indonesia, pendidikan tekstil di Ghent justru masih cukup mengakar dan dipertahankan. Hanya saja, UGhent yang merupakan research university saat ini hanya menyelenggarakan pendidikan tingkat S-2 ke atas, sedangkan pendidikan setingkat sarjana yang juga masih memasukkan penguasaan terhadap teknologi proses konvensional lebih diarahkan pada pendidikan terapan (vocational) yang diselenggarakan oleh HoGhent (Hogeschool Ghent, atau University College Ghent). Di UGhent pula, Autex (Association of Universities for Textiles), yang merupakan asosiasi yang beranggotakan universitas-universitas penyelenggara pendidikan dan penelitian di bidang tekstil berpusat.

Selain berkolaborasi dalam menentukan arah pengembangan ilmu dan teknologi, termasuk menyelenggarakan forum ilmiah berbentuk konferensi internasional di bidang tekstil secara bergilir di negara-negara anggotanya, Autex juga melakukan sebuah inovasi pendidikan yang semestinya dapat menjadi alternatif model pendidikan. Autex yang berbasis di UGhent merupakan penyelenggara program international master yang disebut dengan E-TEAM (European Masters Degree in Advanced Textile Engineering). Gambaran sederhana program E-TEAM adalah pendidikan master di bidang tekstil yang diselenggarakan secara kolaboratif oleh universitas-universitas anggota AUTEX. Pengajarnya adalah para profesor ahli di bidang masing-masing dari lintas universitas, termasuk tempat penyelenggaraan pendidikan pun berpindah-pindah negara setiap semesternya. Hal ini selain memberi kesempatan pada peserta berupa pengalaman tinggal di beberapa negara yang berbeda sepanjang masa pendidikannya, juga memberi gambaran nyata mengenai special expertise yang dimiliki oleh masing-masing universitas penyelenggara pendidikan tekstil.

Dengan perluasan makna di bidang ilmu dan teknologi tekstil yang sudah dimulai sejak kurang lebih 10-20 tahun terakhir, pendidikan dan penelitian tekstil di negara-negara maju termasuk Belgia mulai memasuki wilayah advanced textiles yang multidisipliner. Di Eropa, penelitian bidang smart textiles sudah dikembangkan hingga pada tahap prototipe. Smart textile adalah salah satu cabang ilmu dan teknologi tekstil maju yang pada proses pengembangan wearable textile dengan sifat-sifat cerdas dan fungsional seperti memiliki kemampuan sensor, atau antena, bahkan hingga pengembangan energy storage berbasis bahan tekstil. Beberapa sudah diaplikasikan dalam skala industri dan sudah masuk tahap komersialisasi. Penelitiannya pun masih dikembangkan secara intensif.

Bagaimana dengan Indonesia?

Indonesia, sepertinya masih cukup tertinggal dalam hal pengembangan penelitian dan pendidikan bidang teknologi tekstil maju, meskipun beberapa sudah mulai diperkenalkan. Padahal, ditinjau dari latar belakang sejarah dan perkembangan industrinya hingga hari ini, tidak seharusnya Indonesia mengalami ketertinggalan tersebut. Ditambah lagi, hingga saat ini belum ada satu pun penyelenggara pendidikan magister dan doktoral yang berfokus secara khusus di bidang tekstil di dalam negeri. Hal ini pula yang menjelaskan, mengapa saya begitu teguh pada keinginan untuk melanjutkan pendidikan doktoral bidang tekstil di luar negeri, yang pilihannya akhirnya saya jatuhkan ke UGhent di Belgia. Meskipun pada awalnya keinginan tersebut secara kasat mata kadang lebih terbaca seperti mimpi yang tidak biasa. Tidak biasa karena tekstil adalah bidang yang tidak populer, dan juga bukan mainstream. Tidak biasa juga karena berbagai latar belakang nonteknis terkait alasan-alasan pribadi yang sudah diceritakan sebelumnya. Namun tekad untuk berani menempuh jalan panjang yang tidak mudah hingga ke belahan bumi utara ini semoga pada waktunya nanti akan menghasilkan sesuatu yang dapat menjadi inspirasi dan juga katalis bagi lompatan kemajuan industri dan pendidikan tekstil di Indonesia.

Indonesia, khususnya kota Bandung, bisa dikatakan memiliki akar sejarah tekstil yang hampir sama dengan kota Ghent di Belgia, meskipun dengan starting point yang berbeda karena sejarah kemerdekaan yang dari segi waktu terpaut jauh. Di masa lalu, cikal bakal industri tekstil Indonesia tumbuh dari pinggiran kota Bandung. Hingga saat ini, wilayah Bandung dan lebih luas lagi Jawa Barat, sepertinya masih menjadi pusat industri tekstil terbesar di Indonesia. Cikal bakal lembaga pendidikan tekstil Indonesia bernama TIB yang didirikan di masa kolonialisme oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1922, juga berlokasi di kota Bandung, yang setelah mengalami perubahan berkali-kali, saat ini bernama Politeknik STT Tekstil. Bahkan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin), pertama kali diciptakan pada tahun 1926 oleh Daalenoord, salah seorang ahli tekstil dari Textiel Inrichting en Batik Proofstation Bandoeng (TIB). Majalaya, salah satu pionir sentra industri tekstil di Indonesia, adalah tempat ATBM pertama kali didemonstrasikan oleh Bupati Bandung kala itu.

Pada era tahun 80-90-an, industri tekstil Indonesia sempat menjadi salah satu primadona penyokong pembangunan bangsa. Namun, hibernasi pun sepertinya sempat dialami industri ini, terutama pendidikan dan penelitiannya, terlebih dengan kesalahan besar pihak tertentu yang pernah menyebut tekstil sebagai sunset industry. Akan tetapi nyatanya, hingga hari ini, industri tekstil dan produk tekstil masih dibutuhkan untuk tumbuh di negeri ini. Sebagai industri padat karya, perannya terhadap aspek sosial ekonomi masyarakat pun tentu sangat signifikan. Terlebih dengan fakta bahwa sampai sekarang, tekstil masih masuk ke dalam lima besar sektor nonmigas penyumbang devisa terbesar bagi pendapatan negara, maka industri ini sepertinya masih akan terus menjadi salah satu industri prioritas hingga puluhan tahun ke depan. Maka tidaklah berlebihan bila pendidikan dan riset di bidang tekstil masih dianggap sangat perlu dikembangkan untuk mendukung keberlangsungan aktivitas industri tersebut.

Dengan jumlah industri tekstil yang masih besar dan kuat, yang berarti tingkat kebutuhan tenaga kerjanya pun tinggi, Indonesia hanya memiliki satu perguruan tinggi tekstil milik pemerintah yang menyelenggarakan pendidikan setingkat sarjana, disamping beberapa lainnya yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi swasta dengan level D-3 ke bawah, yang jumlahnya pun tidak habis dihitung dengan jari tangan. Bahkan, eksistensi pendidikan tekstil pun pernah ada  dalam situasi “terancam” dibubarkan karena ada perbedaan mindset beberapa pihak mengenai posisi keilmuan tekstil dalam rumpun ilmu pengetahuan yang berlaku di Indonesia. Sebuah ironi yang memang sering terjadi di tanah air. Padahal bila berkaca pada negara lain, bahkan negara-negara maju yang industri tekstilnya sudah tidak eksis lagi sekalipun, seperti di Belgia dan New Zealand, program studi tekstil masih bertahan dan bahkan berkembang dengan cukup baik di universitas-universitas ternama di negara-negara tersebut. Termasuk di beberapa negara tetangga yang juga tidak memiliki industri tekstil sepopuler Indonesia seperti Singapura dan Malaysia. Lebih jauh lagi bila kita membandingkannya dengan India dan Tiongkok, misalnya. Industri dan pendidikan tekstil berkembang secara paralel dengan sangat baik di negara-negara tersebut. Ada puluhan universitas yang menyelenggarakan program studi tekstil dengan tingkat minat mahasiswa yang masih sangat tinggi.

Kolaborasi penelitian dengan negara lain seperti Belgia perlu semakin dikembangkan untuk mempercepat proses alih teknologi di bidang tekstil, walau teknologi proses untuk mendukung eksistensi industri tekstil konvensional masih tetap dibutuhkan dan perlu dipertahankan. Indonesia bahkan seharusnya dapat mengambil alih posisi sebagai center of excellence di bidang teknologi proses tekstil karena kemudahan bersinergi dengan industri yang ada. Sebagai tambahan, beradaptasi dengan kebutuhan akan perlunya industri yang ramah lingkungan, juga harus mendapat perhatian cukup.

——-

Redaksi menerima artikel atau essay dari anggota Alumni Belgia dalam bentuk gagasan dan opini dengan panjang tulisan minimal 550 kata. Artikel dan foto diri dikirimkan melalui email: alumnibelgie@gmail.com.

*Artikel ini merupakan bagian dari tulisan penulis dalam buku Antimainstream Scholarship Destination: Belajar dari Jantung Benua Eropa yang diterbitkan oleh PPI Belgia dan Penerbit Lintas Nalar dengan dukungan penuh dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Brussel dan para alumni.

Leave a Reply

Your email address will not be published.