Categories
Artikel

Jago Bahasa Perancis, bisa dari Belgia

Oleh : Andriarto Andradjati (Pendiri dan Pengajar Kursus Bahasa Perancis “OPERA – Obrol Perancis”, Alumni Athénée Royal Crommelynck de Woluwe Saint – Pierre, Brussel)

Mungkin belum diketahui secara umum oleh banyak orang Indonesia bahwa Belgia juga negara berbahasa Perancis. Lebih dari 20 tahun lalu, pada 1997 – 1998 saya belajar bahasa Perancis untuk pertama kalinya guna pergi ke Belgia, bukan ke Perancis. Saya dikursuskan oleh ayah saya karena karena saya akan ikut beliau bertugas sebagai diplomat Indonesia di Brussel. Waktu itu saya masih kelas 5 SD. Les tersebut saya jalani selama sekitar dua bulan di Alliance Française Cabang Bogor (kini sudah tiada).

Ternyata, sesampainya saya di Belgia pada awal tahun 1998, ada dua hal yang masih menjadi kekurangan saya : 1) kursus selama 2 bulan belum cukup untuk bisa berbicara dan mengerti bahasa Perancis ; 2) saya belum tahu bahwa bahasa Perancis ternyata memiliki varian. Bahasa Perancis di Belgia tidak sepenuhnya sama dengan di Perancis. Sementara sewaktu masih di Indonesia, oleh guru Alliance Française saya hanya diajari bahasa Perancis Perancis. Maka, sesampainya di Belgia, saya kaget saat mendengar dan melihat kosa kata yang berbeda untuk maksud kata yang sama dengan di bahasa Perancis Perancis.

Kosa kata yang pertama kali mengejutkan saya adalah “septante”, angka 70 dalam bahasa Perancis Belgia. Septante adalah tujuh puluh, seventy dalam bahasa Inggris. Sedangkan di catatan pelajaran saya dari Alliance Française, saya diajarinya “soixante – dix”. Begitulah istilah 70 dalam bahasa Perancis Perancis. Terjemahan tekstualnya enam puluh sepuluh (60 + 10). Kemudian 90 di bahasa Perancis Belgia adalah “nonante” (sembilan puluh). Sedangkan di bahasa Perancis Perancis istilahnya “quatre – vingt – dix” (4 (quatre) x 20 (vingt) + 10 (dix) atau juga 80 (quatre – vingts) + 10 (dix)).

Dampak dari kemampuan bahasa Perancis saya yang masih relatif nihil, saya gagal naik kelas. Saya tinggal kelas di kelas 5 SD dan oleh sekolah saya, École Communale La Fermette de Wezembeek – Oppem, saya disuruh ambil kursus bahasa Perancis selama libur musim panas Juli – Agustus 1998. Memang, ayah saya menyarankan ambil sekolah lokal yang frankofon (berbahasa Perancis) daripada yang néerlandophone (berbahasa Belanda). Sebab menurut pertimbangan beliau, bahasa Perancis lebih dipakai di dunia internasional daripada bahasa Belanda. Ada dampak lain dari kemampuan linguistik masih nihil saya. Kala ibu pemilik rumah yang kami sewa datang saat ayah saya sedang tidak ada di rumah, saya tidak bisa mengerti hal yang madame tersebut sampaikan. Beliau tidak bisa berbahasa Inggris. Hanya bisa bahasa Belanda dan Perancis. Bahasa Belanda saya lebih tidak bisa dibandingkan bahasa Perancis. Sebab, kala itu saya sama sekali belum pernah mempelajarinya selain via pelajaran seminggu sekali di sekolah.

Akhirnya, saya pun mengikuti arahan dari sekolah saya. Pada bulan Juli dan Agustus 1998, saya kursus bahasa Perancis di Institut de Formation de Cadres pour le Développement (IFCAD) di ibukota Brussel. Ditambah dengan mengulang kelas 5 SD, saya lambat laun makin bisa bahasa Perancis. Pada April tahun 2000 saat kelas 6 SD, saya diambil jadi wakil sekolah saya pada lomba dikte bahasa Perancis nasional Belgia, La Dictée du Balfroid. Luar biasa, saya berhasil melaju sampai babak semi final ! Dari tadinya zéro pada 1998 akhirnya menjadi héros pada tahun 2000 !

Sesudah lulus dari SD La Fermette, saya lanjut ke tingkat SMP di Athénée Royal Crommelynck di Commune Woluwe Saint – Pierre, di ibukota Brussel. Saya bersekolah di situ hingga pulang kembali ke Indonesia pada tahun 2002. Di Athénée Royal Crommelynck, saya belajar satu bahasa asing lainnya yaitu bahasa Latin. Sehingga, dari pengalaman tinggal di Belgia, saya jadi membawa ilmu tiga bahasa berbeda : bahasa Perancis, bahasa Belanda dan bahasa Latin. Adapun bahasa Jerman, bahasa resmi ke – tiga negara Belgia, sudah pernah saya pelajari sebelumnya saat ayah saya ditugaskan di Wina, Austria. Di Belgia sendiri hanya sempat saya gunakan sebentar di École La Fermette ketika wali kelas saya pada awalnya mencoba menjelaskan ke saya pakai bahasa Jerman. Selebihnya, saya tidak pernah menggunakannya mengingat orang germanophone di Belgia juga sedikit sekali jumlahnya. Bahasa Inggris ? Secara umum saya bisa tapi di Belgia nyaris tak pernah terpakai. Hanya bahasa Perancis dan sedikit bahasa Belanda.

Sepulang dari Belgia, saya sempat mendaftar lanjut SMP di Lycée Français di Cipete, Jakarta. Sebabnya, saya ingin stabilitas bisa melanjutkan studi pakai bahasa yang sudah empat tahun saya pergunakan (bahasa Perancis). Rupanya, saya tak diterima. Sebab, saya orang yang bisa bersekolah di sekolah lokal (sekolah berbahasa Indonesia). Saya bukan orang prioritas yang tak punya opsi selain bersekolah dalam bahasa Perancis. Tapi, saya sempat menjalani tes masuk Lycée Français. Di situ, ada seorang calon siswi asal Jepang. Saat sedang mengerjakan tesnya, dia ditanya oleh pengawas mengapa dirinya menggunakan kata “nonante”. Padahal, di bahasa Perancis Perancis kan istilahnya “quatre – vingt – dix”. Siswi itu menjawab bahwa “nonante” adalah istilah 90 yang dia gunakan saat dulu tinggal di Swiss. Dari situ, saya jadi dapat pengetahuan bahwa ternyata Swiss juga memiliki varian bahasa Perancis yang berbeda dari negara Perancis. Rupanya ada kosa kata yang sama dengan bahasa Perancis Belgia.

Tak diterima oleh Lycée Français, saya jadi berpisah cukup lama dengan bahasa Perancis. Bahasa tersebut hanya saya gunakan dari waktu ke waktu untuk mengobrol dengan adik saya, di samping bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Saya baru benar – benar menggunakannya lagi pada 2015 setelah membuka dan mengajar kursus bahasa Perancis di lembaga milik saya sendiri di Bogor : OPERA – Obrol Perancis. Berbeda dari banyak lembaga kursus lainnya di Indonesia, OPERA punya keunikan yaitu mengajarkan empat bahasa Perancis sekaligus : bahasa Perancis Perancis, Perancis Belgia, Perancis Swiss dan Perancis Kanada. Saya telah menjadi seorang pengajar yang punya kemampuan 4 bahasa Perancis berbeda. Ini langka di Indonesia !

Dari mana saya bisa bahasa Perancis Kanada ? Saat masih di Belgia, pada tahun 2001 saya sempat liburan bersama keluarga ke Kanada, negara kelahiran saya. Di situ kami sempat ke Provinsi Québec dan saya terkejut mendapati bahasa Perancis di sana beda dari bahasa Perancis Belgia maupun bahasa Perancis Perancis. Kosa kata dan logatnya ada yang tak sama. Itu yang membuat saya kian tahu ternyata bahasa Perancis itu tidak hanya ada bahasa Perancis Perancis. Bahkan setelah saya membaca referensi lebih lanjut, ternyata bahasa Perancis Belgia juga go international sebagaimana bahasa Perancis Perancis. Ini disebabkan Belgia dan Perancis sama – sama menjajah berbagai negara sembari membawa bahasa Perancisnya masing – masing.

Selama menjalani profesi di OPERA sejak 2015, saya sudah memiliki beragam alumni. Murid pertama OPERA sukses tembus beasiswa Universitas Sorbonne, Paris pada 2017. Lalu, ada juga murid yang merupakan diplomat muda Indonesia yang berdinas di KBRI Tunis. Sebelumnya dirinya ditugaskan di KBRI Ottawa, Kanada. Lalu, pada Februari 2019 OPERA memberi pelatihan bahasa Perancis di Pusdiklat Kementerian Luar Negeri. Selain itu, ada juga murid yang lanjut sekolah di Montréal, Québec, Kanada. Ada pula yang kuliah ke Universitas Reims, Perancis. Kini, ada pula yang belajar bahasa Perancis karena akan kuliah mode di Paris. Berkat belajar di OPERA, mereka semua jadi punya kemampuan bicara empat bahasa Perancis berbeda seperti halnya saya.

Tak hanya itu, sebagian dari mereka pun berhasil saya bimbing hingga lulus berbagai level Tes DELF, tes sertifikasi internasional bahasa Perancis semacam TOEFL atau IELTS di bahasa Inggris. DELF adalah singkatan dari Diplôme d’Études en Langue Française (Diploma Studi Bahasa Perancis) dan merupakan tes untuk tingkat pemula hingga menengah. Yang tingkat mahir, tesnya adalah DALF (Diplôme Approfondi en Langue Française (Diploma Mendalam Bahasa Perancis)).

Uniknya, saya berhasil meluluskan sebagian murid saya pada Tes DELF saat saya belum pernah mengambil tes itu sendiri ! Bahkan, alumni OPERA yang lanjut sekolah ke Montréal, Québec, Kanada, memukai penguji DELF level B1 dengan mempraktekkan empat bahasa Perancis sekaligus pada tes speaking : bahasa Perancis Perancis, bahasa Perancis Belgia, bahasa Perancis Swiss dan bahasa Perancis Kanada. Nilai speakingnya pun mendekati sempurna !

Setelah murid pertama saya pergi ke Sorbonne, saya akhirnya mengambil Tes DELF dan DALF selevel demi selevel. Hasilnya, saya meraih prestasi fantastis ! Saya empat kali sukses meraih skor tertinggi DELF dan DALF se-Indonesia ! Bahkan pada DALF level C1, saya menjadi satu – satunya peserta yang lulus dari lokasi ujian di IFI Thamrin (Institut Français d’Indonésie cabang Thamrin, Jakarta Pusat). Tak hanya itu, selama saya mengambil Tes DELF dan DALF, saya berulang kali ditanya belajar bahasa Perancis di mana serta apakah saya murid kursus IFI. Saking terpukaunya para penguji dan sekretariat IFI Thamrin pada saya. Saya pun lantas memperoleh penghargaan Certificat d’Excellence DELF dan DALF dari IFI sebanyak empat kali.

Uniknya, kemampuan bahasa Perancis saya yang mantap diperoleh dari hasil tinggal dan sekolah di Belgia, bukan di Perancis ! Ini menunjukkan bahwa kita bisa jago bahasa Perancis dari negara frankofon manapun di dunia. Kuncinya adalah tekun dan sabar mau belajar semuanya dari nol. Ditambah dengan potensi di bidang bahasa, maka hasil kita bisa mantap. Pengalaman saya memperlihatkan proses yang tidak instan untuk meraih prestasi. Saya sangat bersyukur pernah tinggal di Belgia. Saya juga bangga bisa turut mengharumkan barisan alumni Belgia dengan bidang yang tak lepas dari identitas Belgia. Bahkan lulus kuliah S1 pun topik skripsi saya tentang Belgia. Rasanya saya amat menikmati pengalaman tinggal di sana.

Semoga pengalaman yang saya bagikan bisa menjadi inspirasi dan dorongan semangat bagi teman – teman semua. Semoga kita semua bisa meraih kesuksesan dan berkontribuasi dari bidang kita masing – masing. Sebab kalau saya bisa, mudah – mudahan teman – teman sekalian juga bisa ! Bismillah, bonne chance et bon courage !  

——-

Redaksi menerima artikel atau essay dari anggota Alumni Belgia dalam bentuk gagasan dan opini dengan panjang tulisan minimal 550 kata. Artikel dan foto diri dikirimkan melalui email: alumnibelgie@gmail.com.

2 replies on “Jago Bahasa Perancis, bisa dari Belgia”

Leave a Reply

Your email address will not be published.